“Tante mau cincin ini?” tanya Raka. Ia terkejut mendengar permintaan Tante Nilam. Perempuan cantik dengan penampilan modis seperti dia, tidak mungkin menyukai cincin jelek yang ada di jarinya. Cincin itu bukan terbuat dari emas, tidak juga berhias batu berharga. Hanya sebuah besi tahan karat biasa saja dengan sebuah garis berwarna keemasan tepat di tengahnya. Mustahil ia menyukai bentuknya, kecuali ia mengetahui sesuatu seperti keunikan cincin yang dipakainya itu.Perempuan itu menganggukkan kepalanya. “Kamu mau jual berapa? Dua juta atau … tiga juta?” tawar Tante Nilam, “lima … lima juta!” “Ini cuma cincin biasa, Tan,” sahut Raka, “dan bukan untuk dijual.” “Raka. Ini bukan cincin biasa.” Tante Nilam menghembus keras dengan frustasi. “Ini … aku tahu cincin ini punya sejarah panjang hingga sampai di tanganmu.”Tante Nilam kembali menatap cincin yang melingkari jari Raka. Ia mengangguk dengan yakin. “Kalau tidak salah, di bagian dalam cincin ini ada grafir dengan bahasa kawi lama,
Read more