تسجيل الدخولRaka menepati janjinya. Dia menelpon Vero untuk mengajak teman kuliahnya itu pergi makan. Pemuda itu tak lupa untuk berterima kasih, bagaimana pun berkat si Gori dia mendapatkan pekerjaan hebat ini.
“Kamu yakin kita makan di sini?” tanya Raka.Dia bermaksud membawa Vero ke restaurant yang lebih bagus, tetapi si Gori justru meminta untuk makan sate ayam saja di pinggir alun-alun.“Iya, sate ayam Pak Saipul terkenal enak loh.” Gadis dengan julukan gori itu mengacungRaka menepati janjinya. Dia menelpon Vero untuk mengajak teman kuliahnya itu pergi makan. Pemuda itu tak lupa untuk berterima kasih, bagaimana pun berkat si Gori dia mendapatkan pekerjaan hebat ini.“Kamu yakin kita makan di sini?” tanya Raka. Dia bermaksud membawa Vero ke restaurant yang lebih bagus, tetapi si Gori justru meminta untuk makan sate ayam saja di pinggir alun-alun. “Iya, sate ayam Pak Saipul terkenal enak loh.” Gadis dengan julukan gori itu mengacungkan dua jempolnya.“Baiklah. Itu pilihanmu sendiri loh ya. Jangan nyesel … padahal aku mau ajak kamu makan di mall.” Raka berujar penuh percaya diri. “Mahal.” Vero duduk di bangku yang kosong. “Dua porsi, Bang.” teriaknya pada si penjual. “Minum, Neng?” tanya si penjual ramah.“Es jeruk … dua.” Vero memesan dua saat Raka menganggukan kepala juga.“Ga masalah mahal. Aku baru dapat tip besar.” Raka terkekeh.“Oh ya?” Vero melirik Raka dengan
Raka serba salah. Dia suka sama Luna hanya sekedar teman satu kost. Gadis itu terlihat kasihan sekali karena beberapa hari ini tampak ketakutan. “Sudah kamu gak perlu lagi tutupi apapun. Tante tahu kamu baik hati dan mau memastikan semuanya aman. Cuma kamu gak boleh egois dong!” Feli bersikap tegas kali ini. “Apa cuma karena satu perempuan kamu mau mengorbankan kita semua?” Tante Feli melotot. Tidak ada lagi mata yang mengerling manja padanya, Senyum yang lebar ataupun suara yang lembut. Sekarang yang ada hanya seorang perempuan tegas yang terlihat sedang marah pada anaknya. Raka terdiam. Persis seperti yang diucapkan tante Felli, tatapan para wanita penghuni kost ini pun tertuju padanya. Mereka seolah berkata hal yang sama, apakah pantas hanya demi Luna saja keselamatan semua orang dikorbankan? “Tante … aku hanya merasa kasihan ….” Dia berkata dengan jujur. “Kasihan - kasihan. Apa kamu mau k
“Hiyaa!” Ketiga pria itu dengan kompak berteriak dan langsung mengarahkan pukulannya ke Raka. Untung saja Raka dengan sigap mengelak, hingga ketiga pukulan yang mengarah ke satu titik itu bertemu dan saling beradu. Sesaat ketiga preman itu mengibaskan tangannya. Rasa sakit saat kepalan mereka beradu, membuat tangannya terasa kebas seketika. Tapi mereka bertiga masih tak putus asa. Lagi mereka menyerang dengan bersamaan kali ini dengan tiga titik yang berbeda. Namun kedua tangan Raka tetap melayani setiap pukulannya dengan gesit. Liukan tubuhnya saat menghindari setiap pukulan lawannya, jelas menunjukkan kemampuan bela dirinya yang tinggi. Ketiga preman itu tak juga menyerah, mereka kembali mengayunkan tinjunya masih secara bersamaan. Dan Raka masih melayani dengan gerakan cepat dan terlatih untuk menghindar dan menangkis.“Goblok!” teriak lelaki dengan tato naga tadi. “Kalian masih mau ladeni dia bermain? Habisi dia! Kita harus cepat pulang!” Ketiga preman itu mengeluarkan pisau d
Raka pulang dari panti pijat dengan keinginan yang tertahan. Hari ini tante Sisca memberinya pemandangan luar biasa, tetapi tak memberinya kesempatan untuk merasakan. Dia harus cari tante Feli untuk menyalurkan rasa yang mau meledak di dalam hatinya. Urusan mentraktir Vero bisa nanti saja. Tambahan tips dua juta dari tante Sisca, sudah cukup lumayan.Tunggakan uang kuliah selama enam bulan ini pasti akan segera terlunasi. Lalu, dia akan membeli motor baru, jam tangan baru, pakaian baru, bahkan rumah baru. Raka tersenyum-senyum sambil mengecup cincinnya.Pemuda itu baru saja menjagrak miring motornya dan menutup pintu gerbang kos-kosan saat suara ponselnya berbunyi. Tapi ia tak segera mengangkatnya. Setelah memarkir dan mengunci ganda motornya, lelaki muda itu merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih dari dalamnya. Melihat nama Lira di layarnya, ia bergegas menggeser tombol hijau di layarnya. “Ka, kamu kemana aja … kok lama nggak munc
Klien Raka yang kedua hari ini adalah tante Sisca. Perempuan itu adalah istri seorang pengusaha ban mobil. Dia mempunyai dua orang anak yang sedang sekolah di luar negeri.Tante Sisca dengan rambutnya yang panjang lurus berwarna hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Perempuan keturunan ini bahkan sangat cantik hanya dengan riasan tipisnya. “Kamu anak baru yang direkomendasikan Nilam?” Suara Sisca begitu lembut dan menggoda. Glek. Raka menelan ludah. “I-iya Tante.” Kenapa jadi dia yang gugup, bukannya sang klien.“Hmm … tampangmu boleh juga. Badanmu … cukup menarik.” Tante Sisca berjalan mengelilingi Raka.“Aku jadi penasaran, apa yang di bawah sana sama bersih dan besarnya kayak dadamu?” tanyanya lagi tanpa perlu jawaban.Raka tersenyum tipis. Dari apa yang dipelajarinya, tidak semua pertanyaan customer harus dijawab. Bersama dengan tante Sisca yang terlihat mendominasi ini, pemuda itu menggunakan trik yang berbeda dari tante Kalia.Saat di desa dulu, ayah dan ib
Raka terkejut. Hanya dengan memijat saja dia mendapatkan tips 5 juta rupiah. Ini sudah melebihi apa yang pernah dia bayangkan. Gaji sebulan bersih-bersih di panti pijat ini saja cuma lima juta dan sekarang uang itu dia dapatkan hanya dalam dua jam saja tanpa bekerja keras.Pria itu tersenyum-senyum sendiri.Tante Kalia bahkan jauh lebih pemurah dari tante Feli. Mata Raka semakin terbuka lebar kalau di dunia ini mencari uang tidaklah sesukar yang dia pikirkan selama ini.“Raka!” panggil Dinda.“Ya ….” Raka mendekat dengan senyum lebar.“Tante Kalia memuji kamu. Dia suka dengan service hari ini. Apa kamu sudah ….” Dinda menggunakan tanda kutip dengan dua jari kanan dan kiri. “Sudah apa ya, Din?” Raka bersikap sok polos. “Itu ….” “Mijet maksudmu?” tanya Raka lagi dengan sikap yang lugu.“Ih, nyebelin pura-pura gak tahu.” Dinda dengan gemas mencubit pinggang Raka.“Auw … jangan dicubit nanti aku pengen loh,” ujar Raka dengan sikap manja.“Dasar kamu pintar sekali merayu. Gimana rasanya
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







