LOGINRino langsung mendorong tubuh Luna ke dinding kamar itu. Ia mendekatkan bibirnya ke leher jenjang Luna. Ia menarik napas, menikmati aroma manis parfum kekasihnya. Hembusan napas hangat itu menyentuh leher Luna, membuat tubuh perempuan cantik itu menegang seketika. Alkohol benar-benar membuat keduanya hilang kendali. Sentuhan basah itu mendarat di leher jenjang Luna, memaksa bibirnya mendesah pelan menikmati hasrat yang semakin membakar tubuhnya. Hembusan napas Rino seperti api saat menyentuh jejak basah yang ditinggalkannya. Luna mengangkat kedua tangannya melingkarkannya di leher Rino sementara satu tangan lainnya meremas rambut lelaki itu agar tak berhenti menyentuhnya. “Luna … Lunaku.” Lirih Rino di telinga Luna. Luna masih memejamkan matanya. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Sentuhan Rino bagai candu baginya. Ia selalu merindukan saat tangan kasar lelaki itu menyentuh kulitnya seperti saat ini. Jemari itu menyentuh di
Tukimin tersenyum lebar, memamerkan gigi - gigi besar yang maju ke depan. Pria itu berjalan dengan membawa dus besar dengan satu tangannya, layaknya pramusaji.Dia senang sekali dengan semua tatapan yang tertuju padanya. Baru kali ini Tukimin merasakan bagaimana jadi pusat perhatian. Pria itu lalu berdiri di dekat Vero sambil menunjukkan kardu di tangannya. “Non Vero, lihat saya bawa ini. Ditaruh di sini kah?” tanya pria itu dengan senyum dan gaya yang sok kuat. “Apaan ini Min?” Vero tidak merasa meminta Tukimin membeli sesuatu. “Itu tadi ada Mas ganteng dan Mbak cantik yang belanja di taruh di depan.” Ekor mata Tukimin menangkap sosok seseorang, dia lalu menoleh dan langsung menunjuk ke arah Luna. “Ini dia mbak cantiknya.”Luna yang ditunjuk dengan ucapan cantik itu pun tersenyum dengan sikap malu-malu. Dia menyampirkan helaian rambut panjangnya ke belakang telinga. “Ya tanya dia Min, mau ditaruh di mana,” sahut Vero acuh.
Mata Sekar berputar malas melihat Rino masuk dengan masih memeluk pinggang Luna. Wajahnya yang sejak tadi ceria pun langsung berubah cemberut. Vero langsung menangkap perubahan itu. Awalnya dia tidak tahu apa yang menyebabkan raut wajah Sekar muram, tetapi ketika melihat gadis itu melirik ke arah pasangan yang baru saja masuk, gadis berbulu itu langsung paham.Ternyata Sekar yang cantik dan mandiri juga bisa sakit hati. Vero dengan cepat mengambil sepotong semangka yang dibeli oleh Ratih tadi dan memberikannya pada gadis itu. “Makan ini biar segaran.” “Makasih, Kak.” Sekar tersenyum tipis. “Suhuuuu!” Rino yang sejak tadi memeluk Luna pun melepaskan pelukan nya hanya untuk memeluk Raka. Pemuda itu mendekap si pemilik rumah, seolah lama tak pernah bertemu.“Eh, kamu ini ngapain sih!” Raka jadi jengah di buatnya. “Suhuuu aku kangen sekali. Biarkan aku memelukmu sebentar.” Rino menyandarkan kepalanya di dada Raka d
Bel berbunyi tepat saat nasi sudah matang dan ikan sudah dibakar oleh para pria. Ratih dan Gufron pun sudah selesai membuat aneka macam sambal, sementara si Mbok dan Tukimin sibuk menutup semua jendela dan gorden.“Masih ada tamu lagi ternyata, Min,” ujar si Mbok. “Bukain dah Mbok, biar Tukimin yang beresin semua,” ujar pria kurus itu dengan cekatan. Si Mbok pun bergegas menuju ke pintu untuk membukakan pintu sebelum bel ketiga berbunyi lagi. Ketika pintu terbuka perempuan tua itu terkejut dibuat.“Astagfirullah!” Bagaimana tidak terkejut saat melihat seorang gadis dengan dress mini dan tali kecil di bahunya berada dalam pelukan seorang pria bertubuh tinggi dan kekar. Bukan postur mereka dan pakaiannya yang membuat perempuan tua itu kaget, melainkan ….“Mas Rino sudahan, ah.” Luna mendorong manja dada Rino ketika sudut matanya melihat seseorang sudah membuka pintu kamar.Rino tidak begitu saja melepaskan pelukan dan c
“Kakak … ayo kita lihat di dapur dulu saja. Masa dari tadi bersihin ikan gak kelar-kelar.” Sekar langsung menarik tangan Vero agar segera meninggalkan Parto. Sekar bisa menangkap dengan jelas apa yang akan dikatakan oleh Parto. Dia tidak mau teman gengnya itu sampai keceplosan bicara. Gadis itu tak mau Vero mendengarnya dan sakit hati. Sekar pikir Raka itu berbeda dengan pria lain. Bisa melihat perempuan dengan cara yang lain juga. Namun, dari arah pembicaraan tadi, dia bisa menangkap kalau Suhu mereka sama saja dengan pria lain, yang suka perempuan lemah dan hanya bisa mengandalkan pria. Suka atau tidak Vero pada Raka, tetapi Sekar akan menjaga perasaannya. Dia tidak mau sampai kakak barunya ini sakit hati dan kecewa seperti yang dirasakannya pada Rino. Sesampainya di dapur Sekar dan Vero tercengang. Dapur yang ukurannya tidak seberapa besar itu dipenuhi dengan Gufron, Totok dan Vico yang sedang menger
“Loh, Suhu ini gimana sih. Masa mau dibilang karung goni?” Vico menoleh ke arah teman-teman yang ada di dekatnya. “Karung goni apa biola?” “Ya jelas biola lah. Dadanya penuh, pantatnya pun berisi, terus pinggangnya kecil.” Parto menggambarkan semuanya dengan jelas. Hah? Raka mengernyitkan keningnya dan dia menatap Vero yang ada di balik dinding kaca pembatas. Dia memperhatikan tubuh gadis itu dan menyadari sekarang keanehan saat melihat temannya itu. Raka baru menyadari kalau perbedaan yang dia lihat pada Vero sejak tadi adalah, teman kampusnya itu sudah jauh lebih kurus. Ukuran tubuhnya turun drastis. Raut wajahnya tidak lagi bulat besar, tetapi sekarang sudah tampak lebih lonjong. Rambut merah kecoklatannya membuat Vero terlihat lebih modern. Meskipun, bulu-bulu halus yang dua kali lebih tebal dari gadis biasa, tetap tak bisa menutupi paras dasarnya yang ayu.“Baru sadar kalau ada berlian di sisi Suhu?” goda Sudar dengan y
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







