Zalina mundur selangkah, meski ia tahu tak ada gunanya melangkah di tempat seperti ini. Sosok di ujung lorong itu masih berdiri diam, wajahnya identik dengan wajahnya sendiri, tapi ada sesuatu yang berbeda, matanya kosong, tanpa kehidupan sama sekali, seolah menatap tanpa benar-benar melihat. “Siapa kamu?” tanya Zalina dengan suara bergetar. Sosok mendekat, kakinya tidak menyentuh lantai. Wajah itu, tahi lalat itu, persis sama seperti miliknya. Ia menoleh pada Naradhiya yang bersandar pada dinding, wajahnya tampak kacau. “Kamu belum tau, ya? Kenapa kamu belum bisa pergi, padahal harusnya udah nggak ada. Karena kamu menolak percaya, tubuh di ranjang itu sudah bukan tempatmu.” “Dokter bilang otakku masih ada aktivitas ….” “Sayangnya kamu udah nggak punya harapan. Dan kamu, masih terjebak di sini karena belum bisa menerima semuanya,” kata sosok itu lagi. Zalina menoleh ke arah Naradhiya yang membuka mata, menatap kosong pintu ICU. Ia merosot ke lantai, memeluk lutut sendiri.
Last Updated : 2026-08-31 Read more