Zalina melirik Naradhiya yang masih setia duduk di sampingnya. Lelaki itu terus membacakan buku lalu mengusap keningnya, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutup. “Kemarin, aku melakukan hal besar, Za,” ucap Naradhiya lalu tersenyum tipis. “Maaf karena seharusnya kulakukan ini sejak dulu.” Zalina tidak paham, kemarin ia sibuk mondar-mandir di dalam ruangannya, mencari cara untuk masuk ke dalam tubuhnya meski nihil. Ketika Naradhiya pergi, ia memutuskan untuk tinggal. Sekarang, setelah mendengar pengakuan lelaki itu, Zalina malah menyesal karena tidak membuntuti seperti biasanya. “Kamu habis ngapain, Mas?” tanya Zalina sembari mencondongkan tubuhnya pada Naradhiya. hidungnya menyentuh pipi Naradhiya, tapi yang terasa hanya kehampaan. Naradhiya mengenyit, lalu menyentuh pipinya yang tiba-tiba terasa dingin “Mas?” Zalina menatap heran. “Kamu bisa merasakan sentuhan aku?” Tidak ada jawaban. Zalina mencoba sekali lagi, tidak hanya di pipi, tapi kening, bibir, bahkan sam
Last Updated : 2026-08-25 Read more