“Hai, ketemu lagi.”Zalina menatap Arash yang tersenyum padanya. Zalina mengerutkan keningnya, lelaki itu berdiri di sebelahnya menenteng plastik obat.“Aku senang kamu bangun, Mbak,” imbuhnya. “Tapi aku sedih, kenapa kamu lupa dengan kebersamaan kita.”Zalina mengerutkan keningnya tidak paham. Lelaki ini, lagi-lagi mengatakan hal yang di luar nalarnya.“Kamu ngelantur, ya?” Zalina menggeleng pelan.“Nggak, kok.” Arash tersenyum sembari melirik Zalina yang duduk di kursi roda. “Kamu sendirian lagi? Dia masih bersikap cuek sama kamu, Mbak?”“Maksud kamu apa?” tanya Zalina mulai tidak nyaman dengan ucapan Arash.Lelaki itu datang begitu tiba-tiba dan sekarang malah bicara sesuatu yang membuat Zalina semakin bingung. Namun, entah kenapa ia merasa tidak begitu asing dengan wajah Arash. “Kita saling mengenal?” imbuh Zalina.Arash mengangguk, lalu menggeleng. “Mungkin iya, mungkin nggak. Aku pikir Mbak bakal lupa masa lalu, tapi ternyata lupa semimpi-mimpinya. Aku pernah bilang kan, kalau
Last Updated : 2026-09-05 Read more