Naradhiya terdiam mendengar pertanyaan Zalina. Ia tersenyum tipis meski terasa dipaksakan, ada rasa getir yang muncul di dalam napasnya yang memburu. Dadanya bergemuruh, bukan karena gairah, melainkan karena bagi Zalina, pernikahan ini memang baru dimulai dari nol, di atas kepingan masa lalu yang sengaja ia kubur dalam-dalam. “Mungkin karena ... memang baru kali ini aku benar-benar melihatmu, Za,” jawab Naradhiya pelan, ia mengusap lembut pipi istrinya yang tirus dengan ibu jarinya. Zalina mengerjap pelan, ia menatap lekat suaminya, mencari celah keraguan atau kebohongan di sana. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, mengikis sisa-sisa rasa asing yang muncul saat melihat Naradhiya untuk pertama kalinya, bahkan ketika lelaki itu mengatakan kalau dirinya tengah menikah. “Kalau ini pertama kalinya buat kamu,” ucap Zalina ragu, perlahan merapikan kerah baju Naradhiya, “kenapa rasanya dada aku ngerasa sakit ya,, Mas? Kayak ada bagian dari diriku
Terakhir Diperbarui : 2026-09-02 Baca selengkapnya