Harjo menatap putra kandungnya dengan tatapan penuh keharuan dan penyesalan mendalam, lalu menghembuskan napas berat."Maafkan Bapak, Nak. Maaf kalau tindakan Bapak terkesan lancang dan diam-diam," tutur Harjo. "Waktu pertama kali kita tidak sengaja melihatmu di restoran malam kemarin itu, Bapak sangat terkejut melihat wajahmu yang begitu mirip dengan Bapak waktu muda. Jadi sewaktu kamu ke toilet, Bapak ikut menyusul, menyapa dan perkenalan itu, lalu dengan sengaja Bapak mengambil sampel dari rambut kamu yang jatuh."Harjo berhenti sejenak, melirik Ambar yang mengangguk pelan sambil mengusap air matanya, lalu melanjutkan."Itu Bapak lakukan karena dugaanmu yang begitu mirip dengan Bapak. Nggak mungkin kalau bukan anak kandung, bisa semirip itu seperti fotocopy waktu masih muda. Jadi untuk memastikan terpaksa Bapak tes DNA. Tolong, baca lembaran kesimpulan di paling bawah kertas itu, Nak."Dengan tangan yang kini ikut gemetaran, Viona terus membaca kertas tersebut ke bagian akhir, seme
Read more