แชร์

Bab 212

ผู้เขียน: Trya Dhafi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-18 23:59:06

Jarum jam di dinding menunjuk pada pukul tiga lewat sepuluh menit. Pintu kamar suite terbuka, dan Reno melangkah masuk setelah menyelesaikan seluruh urusan pekerjaannya lebih cepat dari perkiraan.

Viona yang sedari tadi bersantai langsung menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah. Ia bergegas menghampiri Reno, merangkul lengan suaminya manja, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.

"Yey, suamiku akhirnya pulang," ucap Viona manja. "Aku udah nggak bosan lagi sekarang. Tadi
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 212

    Jarum jam di dinding menunjuk pada pukul tiga lewat sepuluh menit. Pintu kamar suite terbuka, dan Reno melangkah masuk setelah menyelesaikan seluruh urusan pekerjaannya lebih cepat dari perkiraan.Viona yang sedari tadi bersantai langsung menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah. Ia bergegas menghampiri Reno, merangkul lengan suaminya manja, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu."Yey, suamiku akhirnya pulang," ucap Viona manja. "Aku udah nggak bosan lagi sekarang. Tadi sih sempat jalan-jalan sendirian keluar, tapi rasanya tetap beda banget kalau nggak bareng sama kamu, Mas."Reno tersenyum hangat, mengecup pucuk kepala istrinya sambil melepaskan jas kerjanya. "Iya, maaf ya Sayang seharian ini kamu harus nungguin aku kerja sendirian."Sambil memeluk pinggang Viona dan berjalan menuju sofa, Reno teringat pada obrolannya tadi siang. Ia pun langsung mengutarakan niatnya."Oh iya, Vi. Tadi siang, Pak Harjo-seorang pengusaha dari Indonesia yang kemarin aku sempat k

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 211

    Harjo menatap lembut mata istrinya, menyalurkan sedikit kekuatan di tengah kegundahan yang melanda mereka berdua. Harjo menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk mantap dengan keyakinan yang bulat set.elah berpikir beberapa saat."Sebaiknya kita temui Reynald dulu, Ma, mumpung dia masih ada di sini. Mungkin dia di sini nggak lama, karena untuk perjalanan bisnis. Papa sudah tidak bisa menahannya lagi, Ma. Papa sangat ingin bertemu dan melihat langsung wajah anak kandung kita dengan dekat setelah tahu kalau dia itu anak kandung kita."Ambar langsung mengangguk cepat, air mata harunya kembali menetes membasahi pipi."Iya, Pa, Mama setuju. Mama juga sudah tidak sabar ingin bertemu Reynald. Syukur-syukur kalau Mama bisa langsung memeluk anak kandung kita itu," tutur Ambar dengan suara bergetar, membayangkan momen indah ketika ia bisa merengkuh darah dagingnya sendiri untuk pertama kali setelah 26 tahun."Kalau begitu, langkah pertama kita adalah mencari informasi selengkap mungkin tenta

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 210

    Begitu tiba di rumah, Harjo Santoso dan Ambar melangkah cepat, langsung masuk ke dalam ruang kerja Harjo, menutup pintu dengan rapat, dan menguncinya dari dalam. Suasana ruangan yang tenang itu mendadak terasa makin mencekam.Sambil bergandengan tangan erat, mereka berdua duduk berdampingan di sofa kulit yang berada di pinggir ruangan. Ambar mencengkeram lengan baju suaminya, dadanya naik turun menahan debar jantung yang seakan ingin melompat keluar.Dengan jari yang sedikit gemetaran, Harjo perlahan membukabsegel amplop cokelat tebal itu. Di dalamnya terdapat dua set dokumen hasil pengujian laboratorium tes DNA komprehensif.Harjo membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu membuka dokumen pertama, yaitu hasil tes perbandingan antara sampel Harjo Santoso dan Ambar dengan Revan.Harjo dan Ambar membaca satu persatu dengan teliti deretan angka dan huruf itu, dari urutan nama, data parameter alel, hingga kesimpulan akhir di paling bawah.Ambar bertanya dengan penasaran, memastikan yang d

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 209

    Suasana di meja makan kediaman keluarga Malik begitu hening saat mereka makan malam, tidak hangat dengan obrolan dan canda tawa seperti biasanya.Lampu gantung berdesain modern memancarkan cahaya hangat di atas meja makan kayu jati yang megah. Berbagai hidangan lezat tersaji rapi, siap untuk disantap. Tapi suasana di meja makan tidak sehangat lampu gantungnya dan menu makanannya yang baru matang.Harjo dan Ambar duduk berdampingan, sementara Revan berada di hadapan mereka.Ambar hanya mengaduk nasi di piringnya dan menyuapkan sedikit ke dalam mulutnya. Wajahnya agak pucat, tapi males makan seperti orang sakit atau banyak pikiran.Di sebelahnya, Harjo juga sama saja. Pria paruh baya itu memang memegang pisau dan garpu untuk memotong daging steak di piringnya, tapi gerakannya lambat dan malas juga. Pandangan matanya kosong menatap lurus ke depan, seperti pikirannya tidak fokus pada steak di piringnya.Melihat tingkah kedua orang tuanya yang janggal sejak makan malam dimulai, Revan akhir

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 208

    Waktu bergulir cepat hingga sore hari menjelang pukul lima. Sesuai janjinya, Reno sudah kembali ke kamar hotel. Setelah membersihkan diri dan menyegarkan badannya dengan mandi air hangat, Reno kini. santai mengenakan kaus polos dan celana kasual.Sambil menunggu jam makan malam, mereka berdua duduk berdekatan di sofa empuk ruang tengah kamar suite tersebut. Viona menyandarkan kepalanya manja pada bahu kokoh sang suami, menikmati momen santai setelah seharian beraktivitas masing-masing.Di tengah obrolan hangat mereka, Viona teringat kejadian kocak sekaligus menggelikan tadi siang. Ia langsung menegakkan tubuhnya, menatap Reno dengan binar mata antusias yang berapi-api."Oh iya, Mas. Mas tahu nggak? Tadi siang tiba-tiba aja ada nomor baru yang ngirim pesan. Nanyain Kamu udah nyari orang tua kandungmu nggak? Terus karena nggak aku tanggapin, dia nelfon aku berkali-kali," cerita Viona penuh ekspresi.Reno mengerutkan keningnya, menatap istrinya heran. "Nomor baru? Siapa? Orang iseng?""A

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   207

    Axel yang sempat terpaku mendengarkan semburan amarah Viona langsung tersadar seketika. Mumpung Viona belum mematikan sambungan telepon secara sepihak, dia cepat-cepat memotong selagi masih ada kesempatan bicara."T-tunggu, Viona! Jangan dimatikan dulu," seru Axel panik. "Aku Axel! Sorry, aku lupa memperkenalkan diri tadi dan terpaksa pakai nomor baru karena kamu sudah memblokir nomorku yang dulu."Napas Viona tercekat sejenak di balik telepon, raut wajahnya seketika berubah makin masam saat menyadari siapa pemilik suara di seberang sana.Tanpa membiarkan Viona menyela, Axel dengan cepat melanjutkan maksudnya. "Aku bertanya karena penasaran juga. Maksudku... apakah suamimu itu mencari orang tua kandungnya? Kalau iya, itu otomatis adalah orang tua kandungku juga, kan? Dan bagaimanapun juga, kamu itu iparku.""Cih!" Viona berdecih keras. "Ipar? Nggak sudi banget aku punya ipar modelan kayak kamu. Nggak usah kepedeaan deh.""Dan nggak usah sok ikut campur urusan suamiku. Mau Mas Reno men

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status