Share

Bab 215

Penulis: Trya Dhafi
last update Tanggal publikasi: 2026-10-20 07:48:02

Harjo menatap putra kandungnya dengan tatapan penuh keharuan dan penyesalan mendalam, lalu menghembuskan napas berat.

"Maafkan Bapak, Nak. Maaf kalau tindakan Bapak terkesan lancang dan diam-diam," tutur Harjo. "Waktu pertama kali kita tidak sengaja melihatmu di restoran malam kemarin itu, Bapak sangat terkejut melihat wajahmu yang begitu mirip dengan Bapak waktu muda. Jadi sewaktu kamu ke toilet, Bapak ikut menyusul, menyapa dan perkenalan itu, lalu dengan sengaja Bapak mengambil sampel dari r
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 215

    Harjo menatap putra kandungnya dengan tatapan penuh keharuan dan penyesalan mendalam, lalu menghembuskan napas berat."Maafkan Bapak, Nak. Maaf kalau tindakan Bapak terkesan lancang dan diam-diam," tutur Harjo. "Waktu pertama kali kita tidak sengaja melihatmu di restoran malam kemarin itu, Bapak sangat terkejut melihat wajahmu yang begitu mirip dengan Bapak waktu muda. Jadi sewaktu kamu ke toilet, Bapak ikut menyusul, menyapa dan perkenalan itu, lalu dengan sengaja Bapak mengambil sampel dari rambut kamu yang jatuh."Harjo berhenti sejenak, melirik Ambar yang mengangguk pelan sambil mengusap air matanya, lalu melanjutkan."Itu Bapak lakukan karena dugaanmu yang begitu mirip dengan Bapak. Nggak mungkin kalau bukan anak kandung, bisa semirip itu seperti fotocopy waktu masih muda. Jadi untuk memastikan terpaksa Bapak tes DNA. Tolong, baca lembaran kesimpulan di paling bawah kertas itu, Nak."Dengan tangan yang kini ikut gemetaran, Viona terus membaca kertas tersebut ke bagian akhir, seme

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 214

    Harjo tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap terdengar seperti obrolan santai, walau dadanya bergemuruh hebat."Maksud Bapak, wajah dan pembawaan Nak Reynald ini benar-benar mengingatkan Bapak pada masa muda Bapak dulu," tutur Harjo hangat. "Rasanya nggak asing."Ambar mengangguk cepat, menyetujui ucapan suaminya, kemudian mencoba memancing lebih jauh, mengarahkan pembicaraan ke arah masa lalu yang ingin mereka pastikan."Nak Reynald ini aslinya memang dari Jakarta, kan?" tanya Ambar dengan raut penuh rasa ingin tahu yang lembut. "Kalau boleh tahu, Nak Reynald tanggal lahirnya kapan? Siapa tahu usianya tidak jauh beda dengan anak kami."Reno yang tidak mencurigai apa pun tersenyum ramah mendengarkan pertanyaan itu. "Iya, Bu Ambar, saya lahir di Jakarta tapi besar di kampung ibu saya. Saya lahir tanggal..."Reno lalu memberitahukan tanggal lahirnya.Mendengar tanggal lahir yang disebutkan Reynald, napas Ambar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 213

    Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Harjo dan Ambar langsung bergerak cepat. Di tengah debar jantung yang tak karuan, mereka berdua bergegas merapikan diri dan bersiap untuk berangkat. Harjo mengenakan kemeja rapi berbalut jaket kasual, sementara Ambar memilih pakaian terbaiknya, merapikan penampilannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.Sebelum mereka berangkat, Ambar mendadak menghentikan langkahnya di depan ruang kerja."Pa... tunggu sebentar. Gimana kalau amplop hasil tes DNA itu kita bawa juga?"Harjo menoleh, mengerutkan kening sejenak. "Bawa, Ma. Siapa tahu kita butuh sebagai bukti nanti."Ambar mengambil map dokumen tersebut yang tadi sudah disimpan di dalam brankas. "Benar, Pa. Kita tidak tahu apa yang nanti akan kita bicarakan, Pa. Kalau Reynald tidak percaya, kita bisa tunjukkan bukti hitam di atas putih ini ke Reynald. Biar dia tahu kalau kita benar-benar orang tua kandungnya, bukan orang asing yang berniat aneh-aneh."Harjo merenung sejenak, lalu mengangguk setu

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 212

    Jarum jam di dinding menunjuk pada pukul tiga lewat sepuluh menit. Pintu kamar suite terbuka, dan Reno melangkah masuk setelah menyelesaikan seluruh urusan pekerjaannya lebih cepat dari perkiraan.Viona yang sedari tadi bersantai langsung menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah. Ia bergegas menghampiri Reno, merangkul lengan suaminya manja, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu."Yey, suamiku akhirnya pulang," ucap Viona manja. "Aku udah nggak bosan lagi sekarang. Tadi sih sempat jalan-jalan sendirian keluar, tapi rasanya tetap beda banget kalau nggak bareng sama kamu, Mas."Reno tersenyum hangat, mengecup pucuk kepala istrinya sambil melepaskan jas kerjanya. "Iya, maaf ya Sayang seharian ini kamu harus nungguin aku kerja sendirian."Sambil memeluk pinggang Viona dan berjalan menuju sofa, Reno teringat pada obrolannya tadi siang. Ia pun langsung mengutarakan niatnya."Oh iya, Vi. Tadi siang, Pak Harjo-seorang pengusaha dari Indonesia yang kemarin aku sempat k

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 211

    Harjo menatap lembut mata istrinya, menyalurkan sedikit kekuatan di tengah kegundahan yang melanda mereka berdua. Harjo menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk mantap dengan keyakinan yang bulat set.elah berpikir beberapa saat."Sebaiknya kita temui Reynald dulu, Ma, mumpung dia masih ada di sini. Mungkin dia di sini nggak lama, karena untuk perjalanan bisnis. Papa sudah tidak bisa menahannya lagi, Ma. Papa sangat ingin bertemu dan melihat langsung wajah anak kandung kita dengan dekat setelah tahu kalau dia itu anak kandung kita."Ambar langsung mengangguk cepat, air mata harunya kembali menetes membasahi pipi."Iya, Pa, Mama setuju. Mama juga sudah tidak sabar ingin bertemu Reynald. Syukur-syukur kalau Mama bisa langsung memeluk anak kandung kita itu," tutur Ambar dengan suara bergetar, membayangkan momen indah ketika ia bisa merengkuh darah dagingnya sendiri untuk pertama kali setelah 26 tahun."Kalau begitu, langkah pertama kita adalah mencari informasi selengkap mungkin tenta

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 210

    Begitu tiba di rumah, Harjo Santoso dan Ambar melangkah cepat, langsung masuk ke dalam ruang kerja Harjo, menutup pintu dengan rapat, dan menguncinya dari dalam. Suasana ruangan yang tenang itu mendadak terasa makin mencekam.Sambil bergandengan tangan erat, mereka berdua duduk berdampingan di sofa kulit yang berada di pinggir ruangan. Ambar mencengkeram lengan baju suaminya, dadanya naik turun menahan debar jantung yang seakan ingin melompat keluar.Dengan jari yang sedikit gemetaran, Harjo perlahan membukabsegel amplop cokelat tebal itu. Di dalamnya terdapat dua set dokumen hasil pengujian laboratorium tes DNA komprehensif.Harjo membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu membuka dokumen pertama, yaitu hasil tes perbandingan antara sampel Harjo Santoso dan Ambar dengan Revan.Harjo dan Ambar membaca satu persatu dengan teliti deretan angka dan huruf itu, dari urutan nama, data parameter alel, hingga kesimpulan akhir di paling bawah.Ambar bertanya dengan penasaran, memastikan yang d

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status