LOGIN“Aku takut kalau Vio tiba-tiba bangun, Om.”
“Tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu.”Bibir Raymond menjelajah dari pipi, bibir, hingga ceruk leher Jovita. Sementara jemarinya mulai menyelinap ke balik T-shirt pas badan yang dikenakan sang istri.“Sebaiknya Om banyak istirahat agar cepat sembuh,” ujar Jovita berusaha bernegosiasi.Beberapa kali Jovita berusaha menyingkirkan tangan Raymond, ketakutan membuaTatapan Raymond kembali jatuh pada sosok Viola yang terbaring tenang di balik selimut putih. Selama ini, ia meyakini bahwa kemiripan fisik Viola dengannya adalah bukti dari ikatan darah di antara mereka. Keyakinan Raymond memang tidak sepenuhnya salah, garis genetik itu memang ada di antara mereka, hanya saja bukan dari benihnya asal garis itu tercipta. “Aku akan menyelidiki ini sampai tuntas,” gumam Raymond dengan rahang mengeras. Jovita merapatkan posisi duduknya, menyusun logika dingin di tengah kekalutan. “Kita bisa mulai dari memetakan motif siapa yang paling kuat untuk menjebak Om Ray saat itu. Siapa yang paling diuntungkan dengan keadaan ini.” Raymond mengangguk, membenarkan logika istrinya. “Kalau itu Pak Roberto, bukankah dia punya pengalaman menyimbunyikan istri simpanan? Jadi daripada membuat orang lain bertanggung jawab, aku yakin dia akan menggunkan ca
Saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, langkah Raymond mendadak terhenti. Di hadapannya, beberapa tenaga medis keluar dari ruang perawatan Viola dengan wajah yang cukup tegang. Sisa-sisa peluh tampak di dahi mereka.Dada Raymond berdebar lebih kencang, gelombang ketakutan membanjiri kala membayangkan kemungkinan terburuk dan paling gelap yang bisa menimpa putrinya.Raymond mempercepat langkahnya, memangkas jarak dengan terburu-buru hingga berdiri di ambang pintu. Di sana, ia mendapati dokter spesialis yang menangani Viola sedang berdiri di hadapan Jovita.“Pasien baru siuman, kami akan terus memantau terus memantau perkembangan Viola, syaraf motorik dan kondisi fisiknya masih sangat lemah. Jika memang terpaksa, kami akan memberikan obat penenang dosis terkontrol agar ia bisa kembali beristirahat dengan tenang,” ucap sang dokter dengan nada tenang.Mendengar penjelasan itu, tarikan napas Raymond yang tadinya memburu perlahan melandai. Ada kelegaan luar biasa yang men
Raymond meremas amplop cokelat itu hingga kertas di dalamnya berkerut hebat. Tatapannya menatap kosong pada angka Tiga belas koma lima puluh persen yang seolah mencemooh seluruh keyakinan yang ia pegang selama puluhan tahun.“Apa ini benar-benar tidak salah cetak? Tolong periksa ulang datanya,” ucap Raymond dengan suara tertahan, rahangnya mengetat keras.Petugas laboratorium itu menggeleng pelan dengan ekspresi profesional. “Semua sampel sudah melalui prosedur validasi ganda, Pak. Hasilnya valid dan sesuai dengan data yang masuk.”Napas Raymond memburu, dadanya bergemuruh hebat seolah dihantam martil tak kasat mata.“Tolong jelaskan pada saya! Apa maksud angka tiga belas koma lima puluh persen ini? Kalau secara genetik itu bukan garis keturunan ayah dan anak, lalu hubungan apa yang kalian maksud?!”Petugas itu menelan ludah, merasakan ketegangan luar biasa yang menguar dari raut wajah pria di hadapannya.“Berdasarkan standar pemetaan DNA, angka di kisaran belasan persen lazimnya mere
Roberto berbaring kaku di atas kursi periksa yang disandarkan, dengan posisi tubuh sedikit telentang.Dua jarum berukuran cukup besar menancap di lengannya, tersambung pada selang-selang bening yang mengalirkan darah merah pekat menuju mesin hemodialisis di sampingnya. Suara deru mesin yang teratur memutar darah untuk disaring memecah keheningan ruangan.Roberto memejamkan mata, tapi kesadarannya sangat penuh. Sejujurnya, motivasi hidupnya sudah lama sirna. Rasa bersalah akan keputusan di masa lalu serta kehancuran keluarganya terus menggerogoti jiwanya setiap detik.Tapi nyatanya, takdir seolah masih ingin menghukum Roberto. Di masa tuanya harus tersiksa dengan penyakit yang makin merusak tubuh serta rentetan masalah keluarga yang kian membelit.Jika sampai hari ini pemilik Chandra Group itu masih sudi menjalani cuci darah yang menyiksa ini, itu semata-mata karena ia tak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa akibat penyakit gagal ginjal yang menggerogoti fisiknya.‘Tuhan, aku ik
Pagi-pagi sekali, Raymond dan Jovita sudah tiba di rumah sakit. Suasana di lorong area perawatan Intensif terasa begitu sunyi dan dingin saat mereka melangkah menuju kamar Viola.Di depan pintu kamar, pertemuan canggung dengan Felisa tak terelakkan.Jovita, yang dulunya bisa bersikap biasa dan luwes terhadap Felisa sewaktu masih dianggap sekadar sahabat Viola, kini merasakan jarak yang begitu membentang lebar. Mengingat posisinya sekarang yang telah sah menjadi istri Raymond, ada getaran kewaspadaan yang terselip di dadanya.Ditambah lagi, meski Felisa terlihat sangat lelah dan kusut akibat semalaman tidak tidur, garis kecantikan mantan istri suaminya itu masih tampak jelas. Jovita tahu betul, situasi yang menguras emosi dan penuh kerapuhan seperti saat ini memiliki celah berbahaya yang bisa saja memicu nostalgia atau kedekatan kembali di antara mantan pasangan itu.Raymond melangkah maju, memutus keheningan di antara mereka. Pria itu menatap Felisa datar.“Pulanglah. Ganti aku dan Jo
Raymond menundukkan kepalanya dalam-dalam, bersuara lesu dan parau. “Sejak awal... Papa tidak pernah percaya kalau Vio itu anak kandungku.”Berulang kali Raymond menghela napas panjang, ingin rasanya melepas semua beban dengan bercerita, tapi itu berarti harus kembali mengorek luka lama.“Papa adalah orang pertama yang melihat aku bersama Feli, dia langsung berpikir ini adalah jebakan. Papa semakin marah karena aku lebih memilih bertanggung jawab dan mempertahankan Vio, daripada menuruti permintaannya untuk menggugurkan atau membuang anak itu... Bayangkan, Jo, aku masih SMA saat Vio lahir ke dunia.”DEG.Jovita tertegun. Matanya membelalak tak percaya. Kenyataan bahwa Raymond harus menanggung beban sebesar itu di usia yang masih sangat muda sungguh menyayat hatinya.“Setiap bayi terlahir suci tanpa dosa...” lanjut Raymond dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Saat itu, aku cuma tidak ingin Vio bernasib sama seperti diriku... lahir dan tumbuh besar tanpa pernah merasakan kasih sayang s
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







