MasukMeski hatinya sedang kacau, matanya pun masih sembab Viola memaksakan diri masuk kerja. Selain ingin membuktikan jika dirinya bisa bersikap professional, gadis yang belum lama diwisuda itu merasa diam hanya akan membuat pikirannya semakin sesak oleh kecewa.Viola berbalik cepat dan berusaha menghindar saat tanpa sengaja berpapasan dengan Julian di koridor kantor Candra Group. Tapi, sebelum langkahnya makin jauh, Julian dengan sigap meraih lengan keponakannya itu.“Lepasin! Aku nggak mau ketemu Om Julian lagi!” teriak Viola histeris sembari menghempaskan tangannya kasar.Julian mengerutkan kening, menatap Viola dengan raut heran. Keponakannya itu tak seperti biasanya yang langsung lengket kepadanya.“Memangnya ada apa, Vio? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini sama Om?”Viola mengalihkan pandangannya, enggan menatap pria yang selama ini begitu ia sayangi dan hormati, paman yang selama ini selalu ia anggap sebagai sosok pahlawan sekaligus pelindung bagi mamanya.“Aku kira selama ini Om ben
“Aku yang salah...”Suara Damian terdengar lirih dari seberang telepon, disusul hembusan napas kasar yang terdengar begitu berat.“Kapan-kapan kita bertemu lagi, Ray. Aku akan jelaskan semuanya dari awal.” Damian sadar pembicaraan sekrusial ini tidak akan selesai hanya melalui sambungan ponsel. Dan takutnya justru meninggalkan salah paham yang akan memperumit masalah.“Baik,” jawab Raymond pendek, mengepalkan tangannya pelan, menahan rasa penasaran yang membuncah.Damian menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Sebenarnya... kemarin Dylan ingin bertemu langsung dengan Jojo dan menjelaskan semuanya. Tapi saat dia menghubungi Jojo, dia justru mendapati Jojo sedang mengalami perundungan dari anak dan mantan istrimu.”Mendengar hal itu membuat Raymond paham bagaimana awal mula istrinya bisa berada di tempat yang sama dengan Dylan hari itu. Itu sama sekali bukan pertemuan sengaja atau rekayasa yang perlu ia curigai, melainkan Dylan yang murni berniat menolong Jovita dari kejahatan F
Raymond melangkah memasuki ruang perawatan Jovita sambil membawa sebuah bungkusan makanan. Melihat suaminya membawa sesuatu, Jovita yang sedang bersandar di ranjang langsung menyambutnya dengan binar penasaran.“Apa itu, Om?” tanya Jovita.Raymond tersenyum tipis, merapikan letak bungkusan itu di atas meja samping tempat tidur. “Yang jelas bukan seblak.”Jovita seketika cemberut dan mengerucutkan bibirnya. “Ih, ditanya baik-baik jawabannya nyolot! Iya, iya... tahu kok selama hamil nggak boleh makan seblak...”Raymond terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. “Ini oleh-oleh dari Bi Siti.”Jovita langsung berbinar seraya membuka bungkusan tersebut. Di dalamnya berisi aneka jajanan khas acara hajatan desa.“Sudah lama nggak makan wajik sama kue cucur!” seru Jovita riang, lalu segera mengambil satu kue manis itu dan mencicipinya dengan gembira.Raymond duduk di kursi samping ranjang, menatap Jovita yang begitu menikmati makanannya. Di dalam hatinya, Raymond berke
Raymond memasuki ruang private sebuah restoran mewah yang telah dipesan khusus. Di sana, Damian Hadiningrat sudah duduk menunggu. Namun, tidak ada satu pun map atau berkas bisnis yang tampak di atas meja.“Mau pesan apa, Ray?” tanya Damian menawarkan.“Kopi hitam saja,” jawab Raymond singkat pada pelayan yang berdiri sigap di sisi meja. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu membungkuk sopan lalu beranjak keluar, menyisakan keheningan di antara dua pria dewasa tersebut.“Duduklah,” ujar Damian. Nada suaranya terdengar begitu akrab, sama sekali tidak formal seperti biasa ketika mereka berada di meja perundingan bisnis.Raymond menarik kursi dan duduk, menatap pria paruh baya di hadapannya dengan penuh selidik. “Ada perlu apa Pak Damian mengundang saya ke sini?”Damian terdiam sejenak, mengamati paras Raymond. Rasanya tentu terlalu cepat jika ia meminta pria di hadapannya ini memanggilnya 'Papa'. Namun, di sisi lain, Damian mendadak bingung harus memulai kebenaran yang teramat rumit ini
Setelah pembicaraan panjang yang mengalir begitu akrab, Jessica akhirnya berpamitan. Wanita itu membenarkan posisi gendongan putri kecilnya.“Aduh, Jo, asli deh, betah banget aku ngobrol sama kamu,” ujar Jessica seraya terkekeh tipis. “Tapi kasihan anak-anak nih, udah mulai rewel waktunya tidur siang.”Sebenarnya Jovita ingin bersama lebih lama dengan Jessica, tapi melihat Joshua yang sudah beberapa kali menguap dan baby Jasmine yang sepertinya tidak nyaman terlalu lama digendongan, membuatnya tak bisa mencegah.Tapi, sebelum benar-benar keluar dari ruang perawatan, ibu dua anak itu menoleh dan berucap dengan gaya genit yang jenaka, “Cepat sembuh ya, Jo! Habis ini kita shopping bareng, habisin duit suami biar kita nggak stres!”Jovita tertawa kecil, suara renyahnya mengisi keheningan kamar inap seraya mengangguk setuju. “Siap, Bu Jess! Nanti kita kuras dompet mereka berdua sampai tipis,” candanya membalas ucapan Jessica.Jovita sama sekali tidak menduga akan mendapat teman baru dari li
Jovita mengerutkan kening, sempat tertegun tidak mengira akan mendapat kunjungan dari istri Jimmy hari ini. Bahkan sampai repot-repot membawa kedua anaknya yang masih balita.Jessica menyapa Jovita dengan suara manis yang sengaja dibuat agak seperti anak-anak, “Halo Tante Jojo! Salim dulu yuk sama Tante Cantik.”Jovita tersenyum ramah, “Bu Jessica,” Lalu pandangannya beralih pada balita tampan yang kini mendekat. “Joshuo sudah tambah gede...” ucap Jovita lembut saat menyambut uluran tangan mungil anak laki-laki kecil itu untuk bersalim.Jessica tertawa pelan. “Panggilannya sama-sama Jojo juga.”Belum sempat berbincang lebih jauh, Joshua mulai berusaha memanjat naik ke atas ranjang rumah sakit. Jessica yang panik melihatnya langsung menarik lembut tubuh putranya turun.“Aduh, Jo! Ayo turun dulu, Sayang, jangan ganggu Tante Cantik. Nanti kalau Om Ray marah gimana?” tegur Jessica.Anehnya, mendengar nama 'Om Ray', Joshua sama sekali tidak takut. Bocah itu malah menepuk tangan gembira dan
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







