"Ternyata aku hanya badut dalam cerita mereka," desah Hendra pelan. Suaranya terdengar getir."Sudahlah, lupakan. Itu bukan salahmu. Dia yang mempermainkanmu," hibur Reyhan. Tangannya tetap mantap menggenggam kemudi.Hendra tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, membiarkan lampu-lampu kota bergerak cepat seperti kilasan kenangan yang pahit.***Tak lama kemudian, Reyhan memarkir Bugatti di Bar. Ia menggiring Hendra masuk ke dalam, lengannya melingkar di bahu sahabatnya itu. Mereka memilih bilik kosong di sudut, dan Reyhan memberi isyarat kepada bartender untuk membawa beberapa minuman.Sandra tiba beberapa menit kemudian, masih dengan koper kecil di tangannya. Ia langsung duduk tanpa basa-basi dan meraih sebotol bir yang sudah terbuka."Bersulang dan tidak berhenti sampai mabuk," seru Sandra, meneguk langsung dari botol.Reyhan mengamatinya dari seberang meja, benar-benar bingung."Uhuk, uhuk," Sandra terbatuk sedetik kemudian. Rupanya ia tidak terbiasa menenggak minuman ke
Last Updated : 2026-07-17 Read more