LOGINMata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi.
Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Rasa bersalah yang hebat sempat menghantam dada Erika, membuatnya mencoba mendorong bahu bidang pria itu. Namun, Martin justru menangkap kedua pergelangan tangan Erika dengan satu tangan besarnya, menguncinya di atas kepala dengan mudah. Ciuman Martin berubah menjadi lebih intens, seolah menghukum penolakannya. Lidah Erika kelu, seluruh persendiannya mendadak lumpuh saat ciuman itu turun ke rahang, lalu beralih ke lehernya yang terekspos bebas. "Ah..." lenguhan bodoh itu lolos begitu saja dari mulut Erika saat bibir dan jambang tipis Martin yang kasar bergesekan dengan kulit lehernya yang sensitif. Sentuhan itu terasa begitu membakar, menyulut hasrat yang tidak pernah Erika ketahui keberadaannya di dalam dirinya. Tangan Martin yang bebas mulai bergerak, menelusuri lekuk pinggang Erika di balik gaun satin hijau zamrud yang licin, lalu perlahan merayap naik. Setiap sentuhan pria itu membuat tubuh Erika melengkung tanpa sadar. Erika benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Dia menginginkan perlindungan dan kehangatan dari pria ini, terlepas dari badai apa yang akan menantinya esok hari. Ketika gairah di antara mereka berada di titik tertinggi, dan gaun yang dikenakan Erika sudah setengah tersingkap... Drrtt!!! Drrrtt!!! Suara getaran ponsel yang nyaring di atas meja nakas tepat di samping ranjang memecah keheningan kamar. Ketegangan instan langsung menyelimuti atmosfer. Gerakan Martin terhenti. Sentuhan hangatnya membeku di atas kulit Erika. Napas mereka berdua memburu, saling berkejaran di udara remang-remang. Dengan rahang yang mengeras, Martin menegakkan tubuhnya, melepaskan kuncian pada tangan Erika. Pria itu meraih ponsel hitamnya yang menyala terang di kegelapan. Pendar dari layar ponsel itu seketika membuat seluruh darah di tubuh Erika terasa surut hingga ke ujung kaki. Rasa pening akibat alkohol menguap begitu saja, digantikan oleh rasa ngeri yang luar biasa saat matanya menangkap nama yang tertera di sana: [ Sandra Calling ] Jantung Erika serasa berhenti berdetak. Dia membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang gemetar hebat, meringkuk ketakutan di atas ranjang dengan pakaian yang berantakan. Pesta di bawah belum usai, dan Sandra pasti sedang mencari sahabatnya yang mendadak hilang. Lebih buruk lagi, Sandra menelepon ayahnya sendiri! Martin melirik ke arah Erika yang tampak ketakutan setengah mati. Namun, karena belum tahu hubungan antara Erika dan putrinya, Martin mengira wanita di ranjangnya hanya panik karena takut hubungan intim mereka terganggu. Dengan tenang, jempol besar Martin menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinga. "Ya, Sayang?" suara Martin terdengar luar biasa tenang dan stabil, seolah dia tidak baru saja hampir menelanjangi seorang gadis di atas ranjangnya. Dari pengeras suara ponsel yang menggema di keheningan kamar, Erika bisa mendengar suara musik bising dari lantai bawah, disusul suara panik sahabatnya. "Papa! Papa masih di kamar? Papa lihat Erika tidak? Dia pamit ke toilet dari tadi tapi belum kembali, aku telepon ponselnya tidak aktif. Aku takut dia kenapa-napa, Pa... Papa bisa bantu cari?" Napas yang ditahan Erika di dadanya terasa mencekik. Dia menatap Martin dengan mata memohon, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Sandra sedang mencari dirinya, ke ayahnya sendiri! Dan pria yang baru saja mencium Erika dengan begitu intim ini adalah orang yang dipanggil 'Papa' oleh sahabatnya. Martin mendengarkan suara putrinya, lalu tatapannya beralih menatap lekat-lekat pada wajah Erika yang pucat pasi di atas ranjangnya . Sebuah kerutan samar muncul di dahi Martin saat dia mulai menyadari sesuatu dari reaksi ketakutan gadis di depannya.Ketenangan di kosan baru Erika terasa menyesakkan setelah badai di Restoran Valdivia reda, pertanyaan Sandra akhirnya bisa diredam. Martin berbohong dengan sangat halus, Sandra yang polos menelan bulat-bulat narasi sang ayah, bahkan berterima kasih karena ayahnya telah menyelamatkan nama baik sahabatnya.Namun bagi Erika, kebohongan sempurna itu justru mempertegas satu hal: Martin bisa memanipulasi kebenaran apa pun tanpa terdeteksi.Malam semakin larut. Suara rintik hujan gerimis membuat kaca di kosan Erika mulai berembun. Usai membersihkan diri dari ketegangan sore tadi, Erika keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan oversized T-shirt putih tipis yang agak menerawang dan celana pendek sebatas paha. Rambutnya yang masih basah terurai, meneteskan air ke atas tulang selangkanya yang bersih.Saat Erika sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, bunyi ketukan pelan—dua kali, begitu teratur—terdengar di pintu kosannya.Jantung Erika melonjak. Tidak ada orang yang tahu tempat tinggal
Darah Erika mendadak tersedot habis membaca pesan anonim tersebut. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat hingga sendok di tangannya berdenting menyentuh piring. Martin, dengan ketajaman instingnya, langsung menyadari perubahan sikap Erika. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan, melangkah menghampiri Erika, dan mengambil ponsel dari genggaman gadis itu. Mata Martin memicing saat membaca pesan itu. Bukannya panik, raut wajah Martin justru mengeras oleh amarah yang tertahan, seolah ia tahu siapa pengirim pesan tersebut. "Terlalu mudah ditebak…” gumam Martin dengan suara berat yang mengintimidasi. "Rupanya mata-matanya di hotel semalam bekerja cukup cepat." "O-Om... apa maksudnya? Om tahu siapa pengirim pesan ini?" bisik Erika panik, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. "Dia tahu soal kita— apa mungkin Daren yang mengirimnya?” Martin mencengkeram dagu Erika dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dengar, Erika. Jangan terlalu khawatir.
Layar ponsel yang berkedip menyala itu seperti bom waktu yang siap meledak. Meski begitu, rona ketenangan terpancar jelas dari raut wajah Martin. Dengan gerakan tenang dan tanpa suara, Martin berjalan meninggalkan kamar Erika lalu menuruni tangga. Begitu berada di koridor luar yang hening, Martin menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ya, Sandra?" Suara Martin terdengar sangat wajar, dingin, dan berwibawa—seolah tak ada hal abnormal yang baru saja terjadi. Dari seberang telepon, suara Sandra terdengar panik dan terengah-engah. “Papa! Papa lagi di mana? Papa tahu nggak Daren ke mana? Terus Erika... Erika hilang, Pa! Ponselnya nggak aktif!" Martin berjalan perlahan menyusuri koridor, menyandarkan satu tangannya di saku celana. "Tenangkan dirimu, Sandra. Nada bicaramu terlalu berlebihan." “Gimana nggak panik, Pa!" seru Sandra dari seberang, suaranya hampir menangis. “Aku tadi minta Daren anterin Erika sebentar karena Erika mendadak pusing dan lemas. Tapi Dar
“Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin me
Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang
“Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.
Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hote
Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik
Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan







