Raiden keluar dari area hotel dengan langkah yang jauh lebih cepat dibanding saat ia datang. Pintu lobi yang berputar perlahan tertinggal di belakangnya, sementara pikirannya terus dipenuhi bayangan Hagia.Malam di Bali masih begitu hidup.Deretan toko suvenir belum menutup pintunya. Lampu-lampu berwarna kuning keemasan menerangi jalan, mengundang wisatawan untuk singgah. Aroma sate, jagung bakar, dan makanan laut bercampur menjadi satu, memenuhi udara malam yang lembap.Namun, semua itu seolah tidak memiliki arti apa pun bagi Raiden.Matanya hanya mencari satu sosok.Hagia."Aku harus menemukanmu," gumamnya pelan.Suara itu hampir tenggelam oleh hiruk-pikuk jalanan, tetapi tekadnya terasa begitu jelas. Ia mempercepat langkah, sesekali menoleh ke dalam restoran-restoran yang masih dipenuhi pengunjung. Setiap kali melihat perempuan berambut panjang dari kejauhan, jantungnya selalu berdegup lebih cepat.Sayangnya...Bukan Hagia.Ia kembali berjalan.Kemudian berlari kecil.Napasnya mula
Read more