Masih di tempat yang sama, ia belum berpindah sedikitpun. Hanya terus menangis, dan bersedih. Suara itu terus terngiang di kepalanya, membuat telinganya panas.Spekulasi bermunculan, tentang Raiden yang bisa saja meninggalkannya. Atau Raiden yang sengaja meminta orang lain mengangkat panggilan itu karena bisa jadi pemuda itu tak ingin lagi mendengar suaranya.Hagia memeluk lututnya, menatap dinding kamar yang beberapa minggu terakhir menjadi temannya."Kalau benar begitu, aku kalah," ia menutup mulutnya sambil terisak. Akan ada begitu banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan. Susah, senang, bersama.Pintu tiba-tiba terbuka, wajah ibunya muncul dibalik pintu. Dengan wajah kesalnya mendekati Hagia."Kau pikir dengan menangis, pria miskin itu akan tahu? Akan datang kesini?" ibunya berjalan mendekat, lalu tanpa menunggu jawaban Hagia, ia membuka pintu lemari.Hagia tak bergeming, ia masih terisak kecil. "Sekarang, ganti pakaianmu."Sontak Hagia menoleh, mengusap bekas air mata. Menatap
Magbasa pa