Motor yang dikendarai pengemudi ojek itu meninggalkan kawasan pinggiran kota, lalu perlahan memasuki jalan-jalan yang semakin ramai. Deretan ruko mulai memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Lampu lalu lintas berganti warna silih berganti, sementara kendaraan terus mengalir tanpa henti meski malam mulai larut. Shen duduk diam di jok belakang. Kedua tangannya menggenggam tas kain lusuh yang dipangkunya sejak tadi. Sesekali ia menatap keluar, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang menjulang. Rasanya seperti sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di pusat kota, padahal baru beberapa minggu ia pindah rumah, banyak bangunan baru berdiri, membuat kota itu terasa begitu asing baginya. "Bu, alamatnya sudah dekat," ucap pengemudi ojek sambil sedikit menoleh. Shen mengangguk pelan. "Baik, Pak." Nada suaranya terdengar pelan, tetapi jantungnya justru berdetak semakin cepat. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau putranya memang pernah berada di
Magbasa pa