Share

212. Raiden tega?

Penulis: Kirrun kiyyun
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 18:15:48

"Raiden.." suaranya pelan, hampir tak terdengar. Namun, pria itu tetap menoleh.

"Kau sejak tadi sibuk dengan ponsel mu." Tak tahan, akhirnya Hagia mengeluarkan kegelisahannya. Rasa tak nyaman ketika pria itu lebih asik dengan ponselnya sejak beberapa jam yang lalu.

Mengerti akan maksud Hagia, tanganya tergerak menyimpan ponsel di dalam saku jaket. Lalu kembali fokus kepada wanita itu.

"Maaf, aku hanya sedang mengurus suatu hal."

"Pernikahan kita?"

"Apalagi."

Harusnya bukan itu jawaba
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   227. Apa itu Jasmien?

    Perdebatan itu belum benar-benar berakhir. Sepasang kekasih itu masih saling menatap dengan emosi yang sama-sama belum mereda. Tidak ada lagi suara tinggi, tetapi keheningan yang tercipta justru terasa jauh lebih menyesakkan. Masing-masing mempertahankan keyakinannya sendiri, seolah tidak ada yang bersedia mundur selangkah. Raiden mengepalkan jemarinya di atas meja. Di dalam kepalanya hanya ada satu pemikiran, harus tetap melanjutkan pernikahan itu. Apa pun yang terjadi. Sementara Hagia juga tidak bergeming. Ia tidak sedang menolak menikah, hanya tidak ingin lelaki yang dicintainya terus memikul beban seorang diri. Sebenarnya keegoisan mereka lahir dari cinta yang sama. Namun anehnya justru membuat keduanya semakin saling melukai. Di tengah keheningan itu, tatapan Raiden tanpa sengaja bergeser ke arah luar kafe. Saat itulah matanya menangkap sesosok perempuan baru saja membuka pintu sebuah mobil mewah. Hanya sesaat, yang

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   226. Jasmine melihat Riaden bersama wanita lain?

    Setelah beberapa minggu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Jasmine akhirnya meminta izin kepada Zen untuk keluar. "Boleh aku bertemu klien sore ini?" Zen yang sedang merapikan dasinya langsung menghentikan gerakannya. "Klien?" Jasmine mengangguk. "Pertemuan ini cukup penting." "Aku hanya sebentar." lanjutnya, agar suaminya memberikan izin. Pria itu terlihat berpikir beberapa saat. Tatapannya sempat turun ke arah perut Jasmine yang masih belum memperlihatkan perubahan berarti. "Jangan terlalu lama. Kalau sudah selesai langsung pulang." Jasmine tersenyum lembut. "Iya. Aku janji." "Kalau badanmu terasa tidak enak, langsung telepon aku." "Baik." Zen mengusap pelan rambut istrinya sebelum akhirnya membiarkan Jasmine pergi. **** Mobil Jasmine berhenti di depan sebuah kafe. Langkahnya turun

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   225. Cukup Hagia!

    "Aku ingin bertemu denganmu." Suara Hagia terdengar pelan dari seberang telepon.Raiden yang sedang duduk di teras rumah menatap langit sore tanpa benar-benar memperhatikannya. Jemarinya memainkan gantungan kunci motor di tangan, sementara pikirannya masih dipenuhi berbagai angka yang tak kunjung menemukan jalan keluar.Ia mengembuskan napas panjang."Hagia, jangan sekarang.""Kenapa?" tanya perempuan itu lirih.Pemuda tersebut memejamkan mata beberapa detik."Karena aku tahu. Kalau kita bertemu, ujung-ujungnya kita akan membahas pernikahan lagi."Beberapa saat tidak ada jawaban. Hanya suara embusan napas Hagia yang terdengar pelan di seberang sana. "Aku tidak akan memaksamu, hanya ingin bertemu."Raiden tetap diam."Hanya sebentar. Aku juga ingin meminta maaf."Kalimat terakhir itu membuat Raiden membuka mata."Aku minta maaf. Karena mungkin selama ini aku belum benar-benar

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   224. Sebuah fakta yang membuat Jasmine semakin murka!

    "Kenapa?" Jasmine memecah keheningan dengan nada yang terdengar polos. Kepalanya sedikit dimiringkan, seolah benar-benar tidak memahami alasan di balik reaksi mereka yang begitu tergesa-gesa. Ratna berkedip beberapa kali. "I-itu..." Suara perempuan itu mendadak kehilangan kelancarannya. Bibirnya membuka, lalu kembali menutup, seakan sedang mencari alasan yang paling masuk akal. Adik iparnya menunggu tanpa mendesak. Tatapannya bergantian berpindah dari Ratna kepada Intan. "Makanan seenak ini..." Ratna akhirnya berdeham pelan, berusaha menguasai dirinya kembali. "Rasanya sayang kalau diberikan kepada para bibi." Alis Jasmine terangkat tipis. "Oh ya?" "Iya." Ratna memaksakan senyum. "Kami sengaja membelinya khusus untukmu." Jasmine mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut. "Kenapa memangnya? Aku dan Zen tidak pernah membeda-bedakan makanan kami dengan makanan yang dimakan para bibi," ucapan itu membuat Ratna kehilangan kata-kata. Tatapannya hanya melirik sekilas ke arah Intan. Da

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   223. Jangan di makan!

    "Kami membawakan semua makanan kesukaanmu!" seru Ratna dengan antusias. Saat itu juga Jasmine berdiri dengan senyum paling palsu yang ia punya. Kakinya melangkah mendekati Ratna yang berlari kecil lalu memeluknya dengan penuh haru. Matanya melirik sekilas ke arah ibu mertua dengan senyum manisnya. Jasmine, sadar itu semua hanyalah sebuah manipulasi yang akan membawanya pada sebuah kesengsaraan, jika ia mempercayai semua itu tulus. Tanganya melepas dekapan dengan lembut, lalu beralih mencium pipi kanan dan kiri Intan. Setelah itu, tangan perempuan paruh baya tersebut memegang perut rata anak menantunya dengan lembut. "Ya Tuhan akhirnya.." Matanya tampak berkaca-kaca, namun Jasmine hanya menatapnya tanpa ekspresi. Di dalam pikirannya, ada jarak yang semakin jelas terbentuk. "Hebat sekali," batinnya dingin. Sementara itu, Ratna sudah sibuk meletakkan kantong-kantong belanja di atas meja. Suara plastik yang bersentuhan dengan kayu meja terdengar berulang, mengisi ruang tamu y

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   222. Ratna dan Intan membawakan Jasmine makanan?

    Sejak dokter memastikan bahwa Jasmine benar-benar mengandung, kehidupan rumah tangga mereka berubah hampir seratus delapan puluh derajat. Zen yang selama ini dikenal dingin, kaku, dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama pekerjaan, perlahan seperti menjadi orang yang berbeda. Hampir setiap hari ia pulang lebih cepat, menanyakan keadaan Jasmine, memastikan jam makannya tidak terlambat, bahkan membaca berbagai artikel mengenai kehamilan agar tidak melakukan kesalahan sebagai calon ayah.Perubahan itu begitu besar hingga Jasmine sendiri terkadang kesulitan mempercayainya. Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap melalui tirai ketika Jasmine keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Tas kerjanya sudah berada di tangan, sementara seorang pembantu baru saja menyajikan segelas susu hangat di atas meja.Belum sempat kakinya melangkah menuju pintu utama, suara berat menghentikannya."Sayang."Kepalanya menoleh.Langkahnya men

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   4. Pertama kalinya bagi Raiden

    "Baiklah... aku mau." Suara Raiden terdengar pelan, tetapi cukup jelas di tengah kamar yang sunyi. Jasmine langsung menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus terlihat di wajahnya. "Kau serius?" tanyanya memastikan. Raiden menelan ludah sebelum mengangguk pelan. "Aku akan beru

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   3. Jasmine yang menyedihkan

    Jasmine menatap layar ponselnya sebentar sebelum berkata santai, "Nomor rekeningmu." Raiden masih belum sepenuhnya sadar. Dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi perbankan lalu menyerahkan ponselnya. Di sampingnya, pria bertubuh besar yang sejak tadi menagih utang ikut memperhatikan dengan cur

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   2. Satu miliar yang merubah segalanya

    Saat orang-orang lain sibuk mengejar wanita kaya seperti Jasmine, dirinya malah ingin kabur. “Tidak,” ucapnya tegas. “Maaf, kau salah orang.” Tanpa memberi kesempatan Jasmine bicara lagi, Raiden segera berjalan keluar. Pintu kamar tertutup pelan. Menyisakan Jasmine yang hanya diam menatap keper

  • PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU   1. Tawaran yang merubah segalanya

    Jasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status