Pagi itu, udara masih terasa sejuk ketika Zen dan Jasmine sudah berdiri di ruang depan rumah megah mereka. Koper-koper berukuran sedang telah disusun rapi oleh para pelayan. Seorang sopir tampak bersiap di depan mobil, sementara Mama Intan berdiri di dekat pintu utama, mengantar kepergian putra dan menantunya dengan senyum yang terlihat hangat."Hati-hati ya, Nak," ujar Mama Intan sambil menepuk lembut lengan Jasmine. Senyum di wajahnya tampak begitu tulus, seolah benar-benar mendoakan mereka. "Berbahagialah di sana... lalu pulanglah membawa kabar yang selama ini kita tunggu."Jasmine membalas senyuman itu dengan anggukan pelan."Iya, Ma."Padahal di balik wajah tenangnya, ia hampir saja tersenyum sinis. Kini setiap kata yang keluar dari mulut ibu mertuanya terdengar seperti racun yang dibungkus madu."Kami berangkat dulu, Ma," pamit Zen sembari meraih koper miliknya.Mama Intan mengangguk."Hati-hati di jalan."Baru beberapa langkah menuju mobil, Jas
続きを読む