“Ngga mungkin nanti, dia cium aroma dari neng Ai tadi. Takutnya masih nempel,” cicit Danu dalam hati.“Pakde—” Susan memanggil dengan wajahnya yang terlihat kecewa.“Ngga usah, ini tempat umum.” Danu mencoba menolak sekali lagi.“Ngga papa, cuma sebentar.”“Besok aja, kalau udah selesai. Pakde tahan, kok.” Danu membujuknya.Susan memanyunkan bibir, dan mau tak mau Danu membujuknya kembali dengan berbagai cara.“Sayang, Neng Susan. Pakde paham, kalau Neng Susan mau manjain Pakde. Dan, kemarin juga gagal gara gara di kost banyak orang.” Danu sembari mengancing resleting yang sempat terbuka tadi.“Tapi, ngga usah di tempat ini. Palingan juga, Cuma seminggu, kan?” tatap Danu, dan kemudian memberi sebuah kecupan di bibir Susan yang merah merona.Akhirnya janda cantik itupun luluh. Ia mengangguk dan tersenyum memeluk pinggang Danu yang berotot itu.“Yaudah, kalau gitu, Susan bayar dulu samua bajunya, ya? Yang ini, tetep dipake aja biar ganteng. Susan suka,” rengeknya.“Iya. Terimakasih, ya
Baca selengkapnya