Suhu di dalam sel batu terasa mulai berubah hangat. Aroma vanila maduku yang manis masih menggantung tebal di udara gua yang lembap. Julian masih meringkuk di pangkuanku, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan."Mengapa tanganmu sedingin ini, Julian?" tanyaku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku menjadi bisikan yang menenangkan. Julian menatapku dengan mata emas yang meredup, seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh feromon maduku."Aromamu membuat kepalaku sangat pusing," rintihnya dengan suara parau. "Kau menyukainya, bukan?" tanyaku sembari menarik perlahan tangan kirinya. Dia tidak menolak saat aku menuntun pergelangan tangannya mendekat ke wajahku.Namun, begitu jemariku menyentuh ujung lengan kemeja putihnya yang basah, tubuhnya mendadak menegang kaku. "Jangan," bisik Julian, mencoba menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Biarkan aku melihatnya," perintahku dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Aku mencengkeram pergela
Baca selengkapnya