LOGINSuhu di dalam sel batu terasa mulai berubah hangat. Aroma vanila maduku yang manis masih menggantung tebal di udara gua yang lembap. Julian masih meringkuk di pangkuanku, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan."Mengapa tanganmu sedingin ini, Julian?" tanyaku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku menjadi bisikan yang menenangkan. Julian menatapku dengan mata emas yang meredup, seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh feromon maduku."Aromamu membuat kepalaku sangat pusing," rintihnya dengan suara parau. "Kau menyukainya, bukan?" tanyaku sembari menarik perlahan tangan kirinya. Dia tidak menolak saat aku menuntun pergelangan tangannya mendekat ke wajahku.Namun, begitu jemariku menyentuh ujung lengan kemeja putihnya yang basah, tubuhnya mendadak menegang kaku. "Jangan," bisik Julian, mencoba menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Biarkan aku melihatnya," perintahku dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Aku mencengkeram pergela
Air mataku jatuh perlahan. Setetes air hangat itu mendarat tepat di bahu kemeja putih Julian yang masih berlutut lemas di depanku.Aku bisa merasakan tubuh ramping pria itu bergetar hebat di bawah cengkeraman emosinya sendiri. Kepalanya tertunduk pasrah, seolah seluruh kekuatan taktis yang dia miliki telah menguap tanpa sisa.Di dalam perut bawahku, sebuah getaran hangat supernatural mendadak bergejolak kencang. Janin di dalam rahimku merespons stres ekstrem yang sedang melanda seluruh sistem sarafku saat ini.Aku merasakan kepedihan yang luar biasa mendalam hingga dadaku terasa sesak. Kenyataan bahwa seluruh penderitaanku selama ini diatur oleh jemari dingin Julian membuatku merasa sangat kotor.Aku hancur, pikirku di dalam hati dengan rasa sakit yang membakar. Hidupku ternyata hanya sebatas mainan eksperimen di balik jarinya yang jenius.Namun, amarah yang dingin segera mengambil alih kesadaranku yang sempat goyah. Aku menolak untuk menyerah pada rasa kasihan atau keputusasaan maut
Langkah kaki berat Valerius akhirnya menghilang di lorong gua yang gelap. Keheningan mencekam kembali membungkus sel batu yang lembap ini.Aku mencoba meredakan detak jantungku yang bergoyang hebat. Aroma feromon membusuk milik raja Serigala Liar itu masih tertinggal pekat di udara.Julian berdiri mematung di depanku, menatap pintu sel yang kosong. Cahaya obor di dinding gua bergetar, memantulkan bayangannya di atas dinding batu basah.Dia tidak lagi menunjukkan senyuman sosiopat dingin yang tadi ditunjukkannya pada pamannya. Wajah tampannya kini tampak sangat suram, retak oleh kepedihan.Secara perlahan, Julian berlutut di depanku di atas tanah gua yang dingin. He menyentuh pergelangan tanganku yang lecet akibat lilitan tali kulit rusa kasar.Sentuhannya tidak lagi kasar seperti sebelumnya. Jemari dinginnya bergerak sangat pelan, mengusap noda darah segar yang mengering di kulitku."Sakit?" tanya Julian dengan nada suara rendah yang terdengar sangat parau.Aku mendengus pelan, menola
Dada bidangku naik-turun dengan sangat cepat di bawah lilitan tali kulit rusa yang kencang. Aku menatap mata emas Julian yang berkilau dingin tanpa riak rasa bersalah sedikit pun.Rasa perih di pergelangan tanganku yang mengucurkan darah tidak lagi terasa penting sekarang. Hatiku jauh lebih sakit, remuk oleh kenyataan bahwa pria di depanku adalah sutradara dari seluruh neraka hidupku.Aku mengumpulkan seluruh sisa napasku untuk berteriak langsung ke wajah tampannya yang membeku. "Kau menyuruh Sienna mendekatiku sejak awal, bukan?"Julian tidak menjawab, dia hanya berdiri tegak dengan keanggunan sosiopat yang sangat tenang. Sikap diamnya justru membuat darahku semakin mendidih di dalam dada."Kau membiarkan Freya mencuri denah pertahanan sayap barat itu agar rencana ini berjalan mulus!" teriakku lagi dengan suara parau yang bergetar hebat.Aku menyentakkan tanganku hingga tali kulit itu semakin mengikis kulit pergelangan tanganku dengan kasar. "Kau yang merancang seluruh penderitaanku
Udara dingin berbau besi berkarat menusuk paru-paruku dengan sangat kejam. Bau feromon Serigala Liar yang membusuk membuatku mual seketika.Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat lengket dan berat. Kepalaku berdenyut kencang. Rasa pening yang tajam menusuk saraf pelipisku.Di mana aku sekarang? Mengapa sekelilingku terasa begitu gelap, pengap, dan membeku?Aku berusaha menggerakkan pergelangan tanganku yang mati rasa. Rasa perih yang tajam langsung menyengat kulitku dengan kasar.Kedua tanganku ternyata telah terikat erat ke dinding batu yang basah. Tali kulit rusa menggores pergelangan tanganku hingga terasa panas menyiksa.Feromon vanilaku meledak tipis di udara gua yang lembap dan dingin. Lututku lemas seketika, tubuhku gemetar hebat di atas tanah yang dingin.Aku diculik dari istana Bloodmoon malam ini. Bagaimana mungkin mereka bisa menembus pertahanan kamar tidurku di sayap barat?Xavier telah berjanji bahwa aku akan selalu aman di bawah perlindungannya. Namun, di mana dia
Kesunyian malam selalu menjadi sekutu terbaik bagi rencana yang disusun di dalam kegelapan.Kepatuhan emosional Xavier yang baru saja kukunci sore tadi memberikan celah kebebasan yang kubutuhkan malam ini.Aku melangkah tanpa suara menyusuri koridor menara utama yang hanya diterangi oleh obor dinding.Langkah kakiku yang polos tanpa alas terasa dingin saat bersentuhan dengan lantai marmer yang sunyi.Xavier sedang tertahan dalam rapat darurat bersama para tetua dewan di aula luar istana.Ini adalah waktu terbaik untuk menembus ruang kerja pribadinya yang selama ini dijaga sangat ketat.Aku mendorong pintu kayu jati besar ruang kerja Sang Raja secara perlahan hingga celahnya terbuka cukup lebar.Ruangan luas itu tampak kosong, hanya diterangi oleh lampu minyak di atas meja belajar mahoni yang menyala redup.Bau sisa kertas tua, tinta hitam, dan aroma kayu bakar khas tubuh Xavier menggantung tipis di udara malam.Aku melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dikelilingi oleh pilar-pilar
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin







