LOGINLembayung senja yang memerah pekat menerobos dari balik tirai kamar tidur utama menara.Cahaya kemerahan itu menyinari separuh ruangan, menyapu ranjang beludru hitam yang kini tampak rapi.Aku duduk tenang di tepi ranjang, memperhatikan matahari sore yang mulai tenggelam di balik perbatasan hutan kawanan Bloodmoon.Suara ketukan pelan di pintu kayu jati menghentikan keheningan kamar ini sebelum akhirnya daun pintu berderit terbuka.Xavier melangkah masuk dengan perlahan tanpa ada sisa keangkuhan teritorial yang biasa dia tunjukkan di ruang dewan.Jubah beludru tebalnya yang megah tampak sedikit longgar, memperlihatkan bahunya yang tidak lagi tegang kaku menantang dunia.Dia melangkah mendekatiku tanpa suara, lalu mendudukkan dirinya di atas kursi marmer tepat di samping ranjang riasku.Tatapan mata merah menyalanya kini terlihat sangat suram, meredup dengan lapisan air yang berkaca-kaca menahan luapan emosi.Sinar matahari sore memperlihatkan dengan jelas garis-garis luka cakar kemera
Langkah kakiku terdengar bergesekan pelan dengan kerikil putih taman mawar istana.Di belakangku, siluet raksasa Bastian terus mengikuti dengan jarak tepat dua jengkal.Dia melangkah dengan kepala yang menunduk dalam, seolah mengunci pandangannya hanya pada ujung gaun sutra putihku.Rahang tegasnya masih tertutup oleh balutan perban putih bersih setelah pertarungan brutalnya tempo hari."Apakah luka-luka di tubuhmu sudah membaik, Bastian?" tanyaku tanpa menghentikan langkah kaki."Luka ini tidak ada artinya sama sekali, Alana," jawab Bastian cepat dengan nada suara yang terdengar sangat patuh."Rasa sakit akibat cambukan ayah kemarin malam bahkan langsung lenyap setiap kali aku berada di dekat aromamu," lanjutnya.Aku berhenti melangkah di dekat rumpun mawar putih yang mekar sempurna siang ini.Bastian langsung menghentikan gerakan kakinya secara instan tanpa perlu kuperingatkan lagi."Mengapa kau terus mengikutiku seperti bayangan yang menyedihkan, Bastian?" tanyaku dingin tanpa berb
Sinar matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar tidur utama yang sangat berantakan. Xavier dan Bastian masih tertidur lelap dengan napas berat di atas ranjang beludru hitam.Dua monster teritorial itu benar-benar kelelahan secara fisik setelah sesi pembalikan kekuasaan semalam. Aku duduk tenang di kursi depan meja rias sembari menyisir rambut hitamku yang terurai panjang.Di sudut ruangan dekat jendela, Julian berdiri mematung menatapku dengan tatapan mata yang tidak fokus. Kemeja putihnya tampak sangat kusut dengan beberapa kancing atas yang terlepas berantakan di dadanya.Pola pernapasannya terdengar sangat dangkal dan tidak stabil menabrak kesunyian pagi. Aroma peppermint dingin miliknya tercium sangat tipis dan melemah di udara kamar ini.Bau khasnya itu telah hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di seluruh ruangan. "Mengapa kau berdiri di sana seperti patung rusak, Julian?" tanyaku dingin tanpa menoleh dari pantulan cermin.Julian mengepalka
Langkah kakiku terasa mantap saat aku menuntun tiga monster ini masuk ke dalam kamar tidur utama. Ranjang beludru hitam yang dulu menjadi saksi pengekangan tubuhku kini berdiri kokoh di tengah ruangan.Aku mengambil rantai perak dan borgol besi dari laci meja tanpa keraguan sedikit pun. Suara gemerincing logam dingin memecah keheningan malam yang sunyi di dalam kamar tidur.Xavier berdiri gemetar di sisi ranjang dengan napas yang memburu sangat kasar. Bastian dan Julian berdiri di sampingnya dengan mata emas yang dipenuhi kabut kepatuhan murni.Aku menyunggingkan senyuman tipis melihat kepatuhan murni dari tiga monster teritorial ini. "Kalian bertiga membuat pakta gila untuk membagi tubuhku sesuka hati di belakangku," ujarku sembari meraba borgol besi yang dingin."Tetapi mengapa sekarang kalian justru merangkak pasrah di atas ranjang beludru hitam ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban."Kami salah, Alana... tubuh kami benar-benar membutuhkanmu untuk bertahan hidup..." lirih Xavier deng
Langkah kaki yang terseret dan gemetar terdengar mendadak memecah keheningan malam di arah pintu teras marmer. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja menyerahkan sisa harga dirinya demi mencari sisa aromaku."Langkah kakimu terdengar sangat kacau, Julian," ucapku tenang sembari menatap rembulan malam yang bersinar redup."Kau... kau telah merusak seluruh sisa rasionalitas di dalam sistem saraf otakku, Alana," sahut Julian dengan suara serak yang bergetar hebat. Dia berdiri bersandar pada pilar batu teras, mencengkeram dadanya yang naik turun dengan sangat cepat mencoba mencari oksigen.Kemeja putihnya yang semula rapi kini tampak terbuka lebar hingga memperlihatkan peluh keringat dingin yang membasahi dada bidangnya. Aroma peppermint dingin miliknya menguar sangat tipis, hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di udara malam."Apakah arsitek medis yang agung tidak mampu merancang obat penawar untuk meredakan gairah liar di tubuhnya
Bunyi deru napas berat Xavier beradu dengan keheningan aula tengah yang dingin. Di bawah tangga altar, Bastian masih terbaring lemas dengan kening yang menempel di atas marmer basah.Keduanya telah kehilangan seluruh kekuatan akibat kepungan feromon Level tiga milikku. Aku melangkah turun satu anak tangga, membuat ujung jubah sutra putihku menyapu helai rambut perak Xavier.Xavier mendongak perlahan dengan tatapan mata merah yang berkaca-kaca dipenuhi kabut birahi. "Alana... aku mohon... biarkan aku masuk... rasanya sangat sakit..." rintih Xavier dengan suara bergetar hebat.Aku menyunggingkan senyum tipis melihat penguasa tertinggi wilayah barat itu gemetar di bawah kakiku. "Kemarin kau mengancam akan menyeretku kembali ke menara terdalam, Xavier," sahutku dengan nada dingin."Mengapa sekarang kau justru merangkak di bawah kakiku seperti ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban.Xavier menggelengkan kepalanya dengan cepat, meremas dadanya yang terasa sangat sesak. "Aku salah... persetubuh
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







