LOGINSinar matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar tidur utama yang sangat berantakan. Xavier dan Bastian masih tertidur lelap dengan napas berat di atas ranjang beludru hitam.Dua monster teritorial itu benar-benar kelelahan secara fisik setelah sesi pembalikan kekuasaan semalam. Aku duduk tenang di kursi depan meja rias sembari menyisir rambut hitamku yang terurai panjang.Di sudut ruangan dekat jendela, Julian berdiri mematung menatapku dengan tatapan mata yang tidak fokus. Kemeja putihnya tampak sangat kusut dengan beberapa kancing atas yang terlepas berantakan di dadanya.Pola pernapasannya terdengar sangat dangkal dan tidak stabil menabrak kesunyian pagi. Aroma peppermint dingin miliknya tercium sangat tipis dan melemah di udara kamar ini.Bau khasnya itu telah hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di seluruh ruangan. "Mengapa kau berdiri di sana seperti patung rusak, Julian?" tanyaku dingin tanpa menoleh dari pantulan cermin.Julian mengepalka
Langkah kakiku terasa mantap saat aku menuntun tiga monster ini masuk ke dalam kamar tidur utama. Ranjang beludru hitam yang dulu menjadi saksi pengekangan tubuhku kini berdiri kokoh di tengah ruangan.Aku mengambil rantai perak dan borgol besi dari laci meja tanpa keraguan sedikit pun. Suara gemerincing logam dingin memecah keheningan malam yang sunyi di dalam kamar tidur.Xavier berdiri gemetar di sisi ranjang dengan napas yang memburu sangat kasar. Bastian dan Julian berdiri di sampingnya dengan mata emas yang dipenuhi kabut kepatuhan murni.Aku menyunggingkan senyuman tipis melihat kepatuhan murni dari tiga monster teritorial ini. "Kalian bertiga membuat pakta gila untuk membagi tubuhku sesuka hati di belakangku," ujarku sembari meraba borgol besi yang dingin."Tetapi mengapa sekarang kalian justru merangkak pasrah di atas ranjang beludru hitam ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban."Kami salah, Alana... tubuh kami benar-benar membutuhkanmu untuk bertahan hidup..." lirih Xavier deng
Langkah kaki yang terseret dan gemetar terdengar mendadak memecah keheningan malam di arah pintu teras marmer. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja menyerahkan sisa harga dirinya demi mencari sisa aromaku."Langkah kakimu terdengar sangat kacau, Julian," ucapku tenang sembari menatap rembulan malam yang bersinar redup."Kau... kau telah merusak seluruh sisa rasionalitas di dalam sistem saraf otakku, Alana," sahut Julian dengan suara serak yang bergetar hebat. Dia berdiri bersandar pada pilar batu teras, mencengkeram dadanya yang naik turun dengan sangat cepat mencoba mencari oksigen.Kemeja putihnya yang semula rapi kini tampak terbuka lebar hingga memperlihatkan peluh keringat dingin yang membasahi dada bidangnya. Aroma peppermint dingin miliknya menguar sangat tipis, hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di udara malam."Apakah arsitek medis yang agung tidak mampu merancang obat penawar untuk meredakan gairah liar di tubuhnya
Bunyi deru napas berat Xavier beradu dengan keheningan aula tengah yang dingin. Di bawah tangga altar, Bastian masih terbaring lemas dengan kening yang menempel di atas marmer basah.Keduanya telah kehilangan seluruh kekuatan akibat kepungan feromon Level tiga milikku. Aku melangkah turun satu anak tangga, membuat ujung jubah sutra putihku menyapu helai rambut perak Xavier.Xavier mendongak perlahan dengan tatapan mata merah yang berkaca-kaca dipenuhi kabut birahi. "Alana... aku mohon... biarkan aku masuk... rasanya sangat sakit..." rintih Xavier dengan suara bergetar hebat.Aku menyunggingkan senyum tipis melihat penguasa tertinggi wilayah barat itu gemetar di bawah kakiku. "Kemarin kau mengancam akan menyeretku kembali ke menara terdalam, Xavier," sahutku dengan nada dingin."Mengapa sekarang kau justru merangkak di bawah kakiku seperti ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban.Xavier menggelengkan kepalanya dengan cepat, meremas dadanya yang terasa sangat sesak. "Aku salah... persetubuh
Suara langkah kaki yang sangat berat terdengar mendadak bergema dari arah pintu masuk aula tengah.Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang baru saja datang mengacaukan malam penaklukanku.Geraman Alpha Tertinggi Xavier yang sangat keras langsung mengguncang pilar-pilar batu di aula tengah yang sunyi."Bastian! Apa yang sedang kau lakukan di atas lantai dingin itu?!" bentak Xavier dengan suara menggelegar dipenuhi amarah murni.Bastian yang masih memeluk pergelangan kaki polosku tampak tersentak lemah tanpa melepaskan pegangan tangannya.Napasnya terdengar sangat memburu dengan keringat dingin yang terus membasahi perban di rahang tegasnya.Aku berbalik secara perlahan, menatap Xavier yang kini melangkah lebar mendekati tempat kami berdiri di atas tangga altar."Angkat tubuhmu sekarang juga, Bastian!" perintah Xavier lagi sembari mencengkeram bahu kokoh putranya dengan sangat kasar."Dia tidak akan bergerak ke mana pun tanpa izin dariku, Xavier," sahutku dengan nada suara
Langkah kakiku terdengar sangat pelan saat aku berjalan menyusuri koridor dingin aula tengah yang sunyi. Malam semakin larut, namun udara malam istana Bloodmoon sama sekali tidak bisa membekukan bara kemenangan yang baru saja kunyalakan di menara timur.Aku menghentikan langkahku tepat di depan patung serigala perak raksasa yang berdiri kokoh menghadap altar utama. Mataku menatap lekat pada pahatan dingin itu dengan senyuman tipis yang perlahan terukir di bibirku.Kini aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidak lagi berdiri di istana terkutuk ini sebagai mangsa yang ketakutan. Rahimku adalah takhta kekuasaan paling berharga yang diperebutkan oleh tiga monster teritorial, dan aku akan menggunakannya untuk membuat mereka merangkak di bawah kakiku.Suara langkah kaki yang sangat berat dan terseret-seret mendadak terdengar memecah keheningan malam dari arah koridor luar. Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik langkah berantakan yang bergema tidak stabil di lantai marmer itu
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







