Aku mencengkeram pinggiran batu gua yang kasar, menahan gelombang mual yang mendadak naik ke tenggorokanku. Cairan pahit bercampur air liur keluar dari mulutku, menetes ke lantai tanah yang dingin."Alana, kau tidak apa-apa?" suara Bastian terdengar panik dari belakangku. Sepasang tangan kekar Bastian langsung memegang kedua bahu ku, menopang tubuhku yang gemetar.Aku menghirup napas dengan susah payah, merasakan perut bawahku berdenyut kencang secara tidak wajar. Denyutan hangat itu mendadak menyedot seluruh energi fisikku dengan sangat cepat."Jangan sentuh aku, Bastian," bisikku dengan suara serak seraya menepis tangannya perlahan. Aku berusaha berdiri tegak, tetapi lututku terasa lemas seolah kehilangan semua kekuatan penopangnya.Bastian mengerutkan kening, lalu mengendus udara di sekitar leherku dengan cemas. "Aromamu berubah, Alana, aromamu menjadi jauh lebih manis dari biasanya," gumam Bastian dengan mata emas yang berkilat khawatir."Aku hanya kelelahan, tidak ada yang perlu
Baca selengkapnya