MasukPerdebatan sengit antara Xavier dan Bastian di lorong luar gua masih bergema sangat keras. Suara benturan logam dan geraman kedua Alpha itu membuat dinding-dinding batu bergetar hebat.Julian tiba-tiba bergerak sangat cepat bagai iblis yang melesat di dalam kegelapan sel maut kami. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan jari-jarinya yang gemetar sangat kencang menahan ketakutan."Julian, apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan sisa tenaga yang hampir habis sepihak pagi ini. "Lepaskan aku! Suara ayahmu sudah terdengar sangat dekat!"Julian tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, dia justru menyeret tubuh lemas dan dingin Alana dengan paksa. Langkah kakinya membawaku menjauh dari sel kayu menuju sudut terdalam gua yang sangat gelap."Kau gila, Julian!" teriakku sembari meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari genggaman tangannya yang sekeras baja. "Bastian sedang bertaruh nyawa melindungi lehermu di luar sana!""Aku tidak peduli pada Bastian atau siapa pun lagi fajar ini, Alana!"
Pintu sel kayu hancur berkeping-keping di bawah kaki raksasa Xavier fajar ini. Aroma belerang dan kayu bakar langsung menyergap hidungku secara paksa.Xavier berdiri tegak dalam wujud setengah serigala hitamnya yang sangat mengerikan. Sepasang matanya menyala merah darah, mengunci sosok Julian yang berdiri tepat di depanku."Pengkhianat kotor," geram Xavier dengan suara parau yang menggetarkan seisi gua batu. Satu tebasan kuat dari cakar peraknya langsung melesat secepat kilat mengincar leher Julian.Julian mengangkat belati peraknya tinggi-tinggi untuk menahan hantaman cakar perak ayahnya. Dia tidak mencoba menghindar sama sekali dari serangan pembunuhan yang sangat masif itu.Bunyi benturan keras logam dan kuku tajam memercikkan bunga api di dinding gua yang basah. Namun kekuatan fisik manusia Julian terlalu lemah sepihak di hadapan kekuatan murni sang Alpha Tertinggi.Julian terhuyung mundur dengan sangat keras hingga punggungnya menghantam pilar batu gua. Kemeja putihnya koyak sep
Salju tipis mulai turun membasahi dedaunan kering di hutan utara yang membeku.Seekor serigala hitam raksasa dengan tinggi mencapai dua meter melesat bagai bayangan maut di antara pepohonan.Itu adalah Xavier, sang Alpha Tertinggi yang sedang didera murka luar biasa.Dada bidang serigalanya naik-turun dengan sangat kasar saat dia memaksakan kakinya terus berlari.Rasa sakit yang teramat sangat menusuk setiap jengkal saraf di kepalanya akibat sisa Terkurasnya Energi Titah yang dideritanya semalam.Urat-urat perak di bawah kulit serigalanya menegang kaku, berdenyut menyiksa setiap kali dia mengendus udara dingin.Namun, Xavier mengabaikan siksaan fisik itu sepenuhnya demi menemukan belahan jiwanya."Bastian, robek sayap kanan gua ini!" perintah Xavier melalui lolongan otonom yang menggetarkan udara hutan.Di sampingnya, seekor serigala cokelat raksasa menerjang dari arah yang berbeda dengan kecepatan penuh.Bastian bertarung dengan kegilaan binatang murni, matanya yang keemasan menyala
Aku mencengkeram kedua pipi Julian dengan tanganku yang masih lecet akibat gesekan tali kasar. Kulitku yang terkelupas terasa perih saat bersentuhan dengan kulit wajahnya yang hangat.Aku memaksanya mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang kini berkilat tajam. Tatapan matanya yang keemasan tampak redup, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.Julian tidak menolak saat tanganku menahan wajahnya yang memerah di atas pangkuanku. Dia hanya menghela napas panjang, membiarkan dirinya sepenuhnya berada di bawah kendaliku."Tatap aku, Julian," perintahku dengan nada suara yang sangat tenang namun menuntut kepatuhan mutlak."Mengapa kau tidak berani menatap Omegamu sekarang?" tanyaku lagi untuk memprovokasi harga dirinya yang tersisa.Julian perlahan membuka matanya, menatapku dengan sepasang manik emas yang meredup pasrah. "Aku takut melihat kebencian di dalam matamu, Alana."Aku tersenyum tipis, meraba pipinya yang terasa sangat dingin dengan jemariku yang terluka. Aroma
Suhu di dalam sel batu terasa mulai berubah hangat. Aroma vanila maduku yang manis masih menggantung tebal di udara gua yang lembap. Julian masih meringkuk di pangkuanku, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan."Mengapa tanganmu sedingin ini, Julian?" tanyaku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku menjadi bisikan yang menenangkan. Julian menatapku dengan mata emas yang meredup, seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh feromon maduku."Aromamu membuat kepalaku sangat pusing," rintihnya dengan suara parau. "Kau menyukainya, bukan?" tanyaku sembari menarik perlahan tangan kirinya. Dia tidak menolak saat aku menuntun pergelangan tangannya mendekat ke wajahku.Namun, begitu jemariku menyentuh ujung lengan kemeja putihnya yang basah, tubuhnya mendadak menegang kaku. "Jangan," bisik Julian, mencoba menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Biarkan aku melihatnya," perintahku dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Aku mencengkeram pergela
Air mataku jatuh perlahan. Setetes air hangat itu mendarat tepat di bahu kemeja putih Julian yang masih berlutut lemas di depanku.Aku bisa merasakan tubuh ramping pria itu bergetar hebat di bawah cengkeraman emosinya sendiri. Kepalanya tertunduk pasrah, seolah seluruh kekuatan taktis yang dia miliki telah menguap tanpa sisa.Di dalam perut bawahku, sebuah getaran hangat supernatural mendadak bergejolak kencang. Janin di dalam rahimku merespons stres ekstrem yang sedang melanda seluruh sistem sarafku saat ini.Aku merasakan kepedihan yang luar biasa mendalam hingga dadaku terasa sesak. Kenyataan bahwa seluruh penderitaanku selama ini diatur oleh jemari dingin Julian membuatku merasa sangat kotor.Aku hancur, pikirku di dalam hati dengan rasa sakit yang membakar. Hidupku ternyata hanya sebatas mainan eksperimen di balik jarinya yang jenius.Namun, amarah yang dingin segera mengambil alih kesadaranku yang sempat goyah. Aku menolak untuk menyerah pada rasa kasihan atau keputusasaan maut
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit







