Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / CHAPTER 137: Pelukan yang Memaafkan

Share

CHAPTER 137: Pelukan yang Memaafkan

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-10-14 06:32:32

Suara isakan Julian yang lirih masih memecah keheningan gua maut ini fajar ini. Aku berdiri tegak di dekat tangga altar maut, mengawasi bagaimana Xavier mendekap erat tubuh putra keduanya yang hancur itu.

Kabut keemasan beraroma vanila pekat sisa feromon penundukku masih tertinggal tipis di udara gua yang lembap. Bastian yang berlutut di tanah kotor gua mencoba menegakkan dada bidangnya yang berotot dengan susah payah fajar ini.

"Julian," panggil Bastian dengan nada suara yang teramat parau dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 142: PUTRA YANG DIAMPUNI

    Bau tajam herbal antiseptik menusuk hidungku begitu kelopak mataku terbuka perlahan. Cahaya temaram dari lampu minyak yang tergantung di tiang tenda medis membuat kepalaku terasa sedikit pening.Aku berusaha menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal tebal di ranjang darurat ini. Gerakan kecil itu langsung mengirimkan rasa perih dari pergelangan tanganku yang terluka.Luka lecet merah keunguan bekas gesekan rantai brankas baja kemarin tampak sangat jelas. Kulitku yang pucat kini dihiasi bekas memar yang masih terasa berdenyut nyeri.Sesosok pria berambut hitam legam tampak berlutut dengan lutut langsung menyentuh lantai tanah yang dingin. Julian menundukkan wajahnya sangat dalam, menempelkan keningnya tepat di atas lutut gaun abu-abu yang kukenakan.Bahu kokohnya bergetar hebat tanpa suara, memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Sepasang tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat saat meraba perlahan bekas luka rantai di pergelangan tanganku.Aku merasakan beberapa tet

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 141: PAMAN YANG DIBANTAI

    Suara raungan Xavier menggelegar, membuat pilar-pilar pinus di seluruh hutan utara bergetar hebat. Pepohonan seolah merunduk di bawah tekanan kemarahan Supreme Alpha yang kembali bangkit dengan kekuatan penuh."Bagaimana mungkin lukamu bisa sembuh seketika?" teriak Valerius dengan wajah pucat karena terkejut. Dia mundur selangkah, mencengkeram kapak perak besarnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar."Darahmu akan membasahi salju ini, Valerius!" balas Xavier dengan suara berat yang bergemuruh. Tubuh raksasanya menerjang maju bagai kilat, meninggalkan pusaran salju dingin di belakang langkahnya.Valerius mencoba mengayunkan kapak perak besarnya secara vertikal untuk membelah kepala Xavier. Namun, Xavier bergerak dengan kecepatan monster yang jauh melampaui gerakan sebelumnya.Dia menghindari tebasan maut itu dengan gesit, membiarkan mata kapak hanya memotong angin kosong. Sebelum Valerius sempat menarik senjatanya kembali, cakar besar Xavier sudah menghantam pergelangan tangannya.K

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 140: MEDAN PERANG YANG BERDARAH

    Aku berlari terengah-engah keluar dari mulut gua yang mulai runtuh akibat guncangan ledakan. Langkah kakiku terasa sangat lemas dan terseok-seok di atas timbunan salju utara yang dingin."Bawa Alana pergi dari sini sekarang juga, Bastian!" teriak Xavier dengan suara menggelegar. Tubuh raksasanya langsung melompat menerobos badai salju untuk menghadang puluhan musuh."Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Alana!" balas Bastian dengan taring emas yang mulai memanjang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku ke balik pohon pinus raksasa."Tetap di belakangku, Alana, jangan pernah menunjukkan dirimu!" perintah Bastian dengan napas memburu. Matanya yang menyala emas terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi."Tapi mereka membawa terlalu banyak senjata perak, Bastian!" seru ku dengan suara yang bergetar hebat. Aku meremas perut bawahku yang mendadak kembali berdenyut sangat kencang dan menyiksa."Jangan cemas, Omega, kami tidak akan membia

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 139: SERANGAN TERAKHIR

    Aku mencengkeram pinggiran batu gua yang kasar, menahan gelombang mual yang mendadak naik ke tenggorokanku. Cairan pahit bercampur air liur keluar dari mulutku, menetes ke lantai tanah yang dingin."Alana, kau tidak apa-apa?" suara Bastian terdengar panik dari belakangku. Sepasang tangan kekar Bastian langsung memegang kedua bahu ku, menopang tubuhku yang gemetar.Aku menghirup napas dengan susah payah, merasakan perut bawahku berdenyut kencang secara tidak wajar. Denyutan hangat itu mendadak menyedot seluruh energi fisikku dengan sangat cepat."Jangan sentuh aku, Bastian," bisikku dengan suara serak seraya menepis tangannya perlahan. Aku berusaha berdiri tegak, tetapi lututku terasa lemas seolah kehilangan semua kekuatan penopangnya.Bastian mengerutkan kening, lalu mengendus udara di sekitar leherku dengan cemas. "Aromamu berubah, Alana, aromamu menjadi jauh lebih manis dari biasanya," gumam Bastian dengan mata emas yang berkilat khawatir."Aku hanya kelelahan, tidak ada yang perlu

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 138: Getaran yang Mencurigakan

    Xavier mengulurkan tangan besarnya yang masih gemetar, menyangga sikutku dengan sangat hati-hati pagi ini. Kehangatan feromon kayu bakarnya menyelimuti tubuhku, tidak lagi menindas melainkan memohon perlindungan biologis dariku seutuhnya.Bastian dan Julian berdiri tegak di belakang kami bagai dua prajurit setia yang telah kehilangan seluruh taring pembangkangan mereka. Aroma peppermint dingin Julian yang tipis kini berbaur harmonis dengan aroma kayu bakar hangat Bastian di udara gua yang lembap."Melangkah perlahan, Alana, jalan di depan cukup licin karena salju fajar ini," bisik Xavier dengan nada suara yang sangat lembut. Dia menatapku dengan sepasang mata merah darah yang kini sepenuhnya meredup patuh di bawah otoritas mutlakku pagi ini.Aku mengangguk pelan, mencoba menapakkan kaki polosku di atas lantai tanah gua yang kotor dan dingin pagi ini. "Aku bisa berjalan sendiri, Xavier, kalian tidak perlu bersikap seberlebihan ini," jawabku dengan nada datar yang menguji kesetiaan mere

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 137: Pelukan yang Memaafkan

    Suara isakan Julian yang lirih masih memecah keheningan gua maut ini fajar ini. Aku berdiri tegak di dekat tangga altar maut, mengawasi bagaimana Xavier mendekap erat tubuh putra keduanya yang hancur itu.Kabut keemasan beraroma vanila pekat sisa feromon penundukku masih tertinggal tipis di udara gua yang lembap. Bastian yang berlutut di tanah kotor gua mencoba menegakkan dada bidangnya yang berotot dengan susah payah fajar ini."Julian," panggil Bastian dengan nada suara yang teramat parau dan bergetar hebat menahan perih. Dia merangkak perlahan mendekati tangga altar, mengabaikan sisa rasa sakit akibat luka cakar maut ayahnya tadi.Julian tidak menyahut sama sekali, wajah tampannya masih tersembunyi di balik pundak kokoh Xavier yang gemetar lemas pagi ini. Isakan kecil yang tersedu-sedu masih terdengar lirih dari tenggorokan pria yang biasanya memancarkan keanggunan sosiopat itu."Aku tahu kau sangat membenciku, Julian," ucap Bastian sembari menghentikan langkah merangkaknya tepat d

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

    "Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status