Mag-log inPintu sel kayu hancur berkeping-keping di bawah kaki raksasa Xavier fajar ini. Aroma belerang dan kayu bakar langsung menyergap hidungku secara paksa.Xavier berdiri tegak dalam wujud setengah serigala hitamnya yang sangat mengerikan. Sepasang matanya menyala merah darah, mengunci sosok Julian yang berdiri tepat di depanku."Pengkhianat kotor," geram Xavier dengan suara parau yang menggetarkan seisi gua batu. Satu tebasan kuat dari cakar peraknya langsung melesat secepat kilat mengincar leher Julian.Julian mengangkat belati peraknya tinggi-tinggi untuk menahan hantaman cakar perak ayahnya. Dia tidak mencoba menghindar sama sekali dari serangan pembunuhan yang sangat masif itu.Bunyi benturan keras logam dan kuku tajam memercikkan bunga api di dinding gua yang basah. Namun kekuatan fisik manusia Julian terlalu lemah sepihak di hadapan kekuatan murni sang Alpha Tertinggi.Julian terhuyung mundur dengan sangat keras hingga punggungnya menghantam pilar batu gua. Kemeja putihnya koyak sep
Salju tipis mulai turun membasahi dedaunan kering di hutan utara yang membeku.Seekor serigala hitam raksasa dengan tinggi mencapai dua meter melesat bagai bayangan maut di antara pepohonan.Itu adalah Xavier, sang Alpha Tertinggi yang sedang didera murka luar biasa.Dada bidang serigalanya naik-turun dengan sangat kasar saat dia memaksakan kakinya terus berlari.Rasa sakit yang teramat sangat menusuk setiap jengkal saraf di kepalanya akibat sisa Terkurasnya Energi Titah yang dideritanya semalam.Urat-urat perak di bawah kulit serigalanya menegang kaku, berdenyut menyiksa setiap kali dia mengendus udara dingin.Namun, Xavier mengabaikan siksaan fisik itu sepenuhnya demi menemukan belahan jiwanya."Bastian, robek sayap kanan gua ini!" perintah Xavier melalui lolongan otonom yang menggetarkan udara hutan.Di sampingnya, seekor serigala cokelat raksasa menerjang dari arah yang berbeda dengan kecepatan penuh.Bastian bertarung dengan kegilaan binatang murni, matanya yang keemasan menyala
Aku mencengkeram kedua pipi Julian dengan tanganku yang masih lecet akibat gesekan tali kasar. Kulitku yang terkelupas terasa perih saat bersentuhan dengan kulit wajahnya yang hangat.Aku memaksanya mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang kini berkilat tajam. Tatapan matanya yang keemasan tampak redup, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.Julian tidak menolak saat tanganku menahan wajahnya yang memerah di atas pangkuanku. Dia hanya menghela napas panjang, membiarkan dirinya sepenuhnya berada di bawah kendaliku."Tatap aku, Julian," perintahku dengan nada suara yang sangat tenang namun menuntut kepatuhan mutlak."Mengapa kau tidak berani menatap Omegamu sekarang?" tanyaku lagi untuk memprovokasi harga dirinya yang tersisa.Julian perlahan membuka matanya, menatapku dengan sepasang manik emas yang meredup pasrah. "Aku takut melihat kebencian di dalam matamu, Alana."Aku tersenyum tipis, meraba pipinya yang terasa sangat dingin dengan jemariku yang terluka. Aroma
Suhu di dalam sel batu terasa mulai berubah hangat. Aroma vanila maduku yang manis masih menggantung tebal di udara gua yang lembap. Julian masih meringkuk di pangkuanku, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan."Mengapa tanganmu sedingin ini, Julian?" tanyaku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku menjadi bisikan yang menenangkan. Julian menatapku dengan mata emas yang meredup, seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh feromon maduku."Aromamu membuat kepalaku sangat pusing," rintihnya dengan suara parau. "Kau menyukainya, bukan?" tanyaku sembari menarik perlahan tangan kirinya. Dia tidak menolak saat aku menuntun pergelangan tangannya mendekat ke wajahku.Namun, begitu jemariku menyentuh ujung lengan kemeja putihnya yang basah, tubuhnya mendadak menegang kaku. "Jangan," bisik Julian, mencoba menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Biarkan aku melihatnya," perintahku dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Aku mencengkeram pergela
Air mataku jatuh perlahan. Setetes air hangat itu mendarat tepat di bahu kemeja putih Julian yang masih berlutut lemas di depanku.Aku bisa merasakan tubuh ramping pria itu bergetar hebat di bawah cengkeraman emosinya sendiri. Kepalanya tertunduk pasrah, seolah seluruh kekuatan taktis yang dia miliki telah menguap tanpa sisa.Di dalam perut bawahku, sebuah getaran hangat supernatural mendadak bergejolak kencang. Janin di dalam rahimku merespons stres ekstrem yang sedang melanda seluruh sistem sarafku saat ini.Aku merasakan kepedihan yang luar biasa mendalam hingga dadaku terasa sesak. Kenyataan bahwa seluruh penderitaanku selama ini diatur oleh jemari dingin Julian membuatku merasa sangat kotor.Aku hancur, pikirku di dalam hati dengan rasa sakit yang membakar. Hidupku ternyata hanya sebatas mainan eksperimen di balik jarinya yang jenius.Namun, amarah yang dingin segera mengambil alih kesadaranku yang sempat goyah. Aku menolak untuk menyerah pada rasa kasihan atau keputusasaan maut
Langkah kaki berat Valerius akhirnya menghilang di lorong gua yang gelap. Keheningan mencekam kembali membungkus sel batu yang lembap ini.Aku mencoba meredakan detak jantungku yang bergoyang hebat. Aroma feromon membusuk milik raja Serigala Liar itu masih tertinggal pekat di udara.Julian berdiri mematung di depanku, menatap pintu sel yang kosong. Cahaya obor di dinding gua bergetar, memantulkan bayangannya di atas dinding batu basah.Dia tidak lagi menunjukkan senyuman sosiopat dingin yang tadi ditunjukkannya pada pamannya. Wajah tampannya kini tampak sangat suram, retak oleh kepedihan.Secara perlahan, Julian berlutut di depanku di atas tanah gua yang dingin. He menyentuh pergelangan tanganku yang lecet akibat lilitan tali kulit rusa kasar.Sentuhannya tidak lagi kasar seperti sebelumnya. Jemari dinginnya bergerak sangat pelan, mengusap noda darah segar yang mengering di kulitku."Sakit?" tanya Julian dengan nada suara rendah yang terdengar sangat parau.Aku mendengus pelan, menola
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A







