Bayu berhenti tepat di depan Bang Jali. Sorot matanya benar-benar kosong dari belas kasihan. Ia merogoh saku dalam kemejanya, mengeluarkan sebuah buku cek tebal, dan menuliskan sederet angka dengan pena emas. Ia merobek kertas cek itu, lalu menampar wajah Bang Jali dengan cek tersebut. "Seratus lima puluh juta," bisik Bayu mematikan, membiarkan cek itu jatuh ke pangkuan sang rentenir. "Tujuh puluh juta buat utang bajingan ini, sisanya buat biaya rumah sakit anak buahmu. Bawa sampah-sampahmu dan pergi dari sini dalam hitungan ketiga, atau anak buah di belakangku itu yang bakal ngurus mayat kalian. Satu." "I-iya, Mas! Iya, Ampun!" Bang Jali menyambar cek itu, matanya membelalak melihat cap perusahaan raksasa dari Jakarta. Tanpa membuang detik berharga, ia dan anak buahnya merangkak, memapah teman mereka yang pingsan, dan lari terbirit-birit menembus hujan. Kini, hanya tersisa Dewa, Maya, dan Bayu di ruangan itu. Dewa menelan ludah, wajahnya sepucat kertas. Ia menatap Bayu ya
اقرأ المزيد