FAZER LOGINPercakapan di antara mereka—tepatnya antara Lucas dan Yurina, mengalir ringan. Yurina bercerita singkat tentang kesibukannya, mengomentari restoran yang ternyata cukup ramai malam itu, lalu sesekali melontarkan kenangan lama yang membuat suasana di meja mereka tampak seperti pertemuan tiga orang teman yang sudah lama tidak berjumpa.Namun, di sela-sela ocehannya, matanya terus bekerja. Ia memperhatikan gerak-gerik Ivy dengan detail. Mulai dari caranya duduk, ekspresi wajah, juga caranya berbicara yang begitu hati-hati sambil sesekali melirik ke arah Lucas guna melihat respons dari pria itu. “Sebenarnya aku penasaran sesuatu.” Yurina memindahkan pandangannya dari piring berisi makanan ke arah Ivy yang balas menatapnya. “Apa kalian berdua memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman?”Mata Yurina menatap Ivy dengan binar keingintahuan yang tajam. Pertanyaannya terdengar ringan, tetapi jelas bukan sekadar basa-basi. Napas Ivy tertahan. Fokusnya tertumbuk pada mata Yurina sedikit lebi
Yurina berdiri di sisi meja mereka dengan gaun elegan yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Ia mendesah pelan, mengerucutkan bibir dengan raut kecewa yang dibuat-buat.“Aku baru saja dicampakkan bahkan sebelum kencanku dimulai. Menyebalkan sekali.” Ia melirik Lucas, lalu tersenyum. “Tapi sepertinya, keberuntunganku tidak seburuk itu. Aku malah bertemu denganmu di sini.”Kalimatnya menggantung ketika pandangan Yurina beralih kepada perempuan yang duduk di seberang Lucas. Wanita itu membeku sesaat. Matanya melebar, sementara satu tangannya spontan menutup mulutnya yang sedikit terbuka, sebelum buru-buru mengubahnya menjadi senyum cerah.“Ya ampun, Ivy? Ini benar kau, kan?”Ivy merasakan jantungnya berdegup keras. Ia mencoba membalas sapaan itu, tetapi senyum yang terangkat di sudut bibirnya terasa kaku dan canggung. “H-hai, Yurina.”“Sudah lama sekali.” Yurina semakin mendekat, matanya menyusuri wajah Ivy sejenak dengan ekspresi penuh keterkejutan yang tampak tulus. “Aku hamp
Kepanikan dalam suara Ivy memecah keheningan kamar. Namun, Lucas hanya berdiri di sana, menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah, dingin, dan tenang. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Lalu kenapa kau bilang nasib Tante Jasmine ada di tanganmu?!” Ivy melangkah maju, dadanya kembang kempis dengan cepat ketika udara yang ia hirup terasa semakin sulit mencapai paru-paru. “Lucas, kalau kau berani menyentuh Tante Jasmine—” “Aku tidak menyentuhnya, Ivy,” sergah Lucas cepat, memotong kalimat Ivy dengan nada datar yang terkesan menyiksa. “Lebih tepatnya belum.” Lucas menyeringai, menikmati ekspresi takut yang menyebar di paras cantik Ivy. “Semuanya tergantung bagaimana sikapmu kepadaku,” lanjut Lucas setelah jeda beberapa saat. Lucas mendekat ke arah Ivy. Bayangannya yang tinggi besar, perlahan mengurung gadis mungil itu. Tangannya terangkat, mengusap garis rahang Ivy dengan ibu jari, sebuah sentuhan lembut yang justru terasa seperti goresan duri. Ia sengaja membiarkan kalim
Namun, jauh di dalam hati, Yurina tahu bahwa ada sesuatu yang membuat kemunculan Ivy terasa jauh lebih mengusik daripada sekadar kemunculan seorang perempuan dari masa lalu.Selama ini, ia memang tidak pernah mendapatkan hati Lucas. Ia sudah mengutarakan perasaannya berkali-kali, tetapi pria itu selalu menolaknya dengan cara yang begitu lembut hingga Yurina memilih untuk tetap tinggal di sisinya, berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah di antara mereka.Ia bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain. Dan Nolan pernah menjadi salah satunya. Bukan karena perasaannya kepada Lucas telah hilang, melainkan karena bagi Yurina, mencintai pria itu dari dekat jauh lebih mudah daripada harus kehilangan tempat di hidupnya sama sekali.Lagipula, Lucas selalu memperlakukannya berbeda dari perempuan lain. Pria itu peduli, menjaganya, dan memberinya perhatian yang terkadang terasa terlalu istimewa untuk sekadar disebut sebagai persahabatan.Selama bertahun-tahun, tak ada perempuan lain
Lucas membuka kunci gudang dengan tergesa. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertumbuk ke tubuh Ivy yang terkulai di lantai. “Ivy,” panggilnya, sambil mencoba menguasai diri supaya tidak terlihat khawatir. Tidak ada jawaban. “Cepat bangun! Jangan pura-pura.” Lucas menggoyangkan kaki Ivy dengan kakinya beberapa kali. Begitu dia lagi-lagi tidak mendapatkan respon, pria itu mengembuskan napas kasar. Membungkuk dan mengangkat tubuh Ivy ke dalam pelukannya. Kali ini gerakan Lucas jauh lebih hati-hati daripada ketika ia menyeret Ivy ke tempat tersebut. Ia bahkan sempat memastikan napas Ivy masih teratur sebelum membawanya naik menuju kamar lalu membaringkannya di atas kasur. Jika logika Lucas mendikte bahwa dia harus pergi karena Ivy akan baik-baik saja, hatinya tidak berbicara seperti itu. Lucas akhirnya memilih untuk tidak pergi. Ia duduk di sisi kasur, mengawasi wajah pucat Ivy dalam diam. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam. Hampir satu jam berlalu, t
“Kau mau bawa aku ke mana?” “Lepaskan aku, Brengsek!” “Aku tidak mau ikut denganmu!” “Lucas! Aku pasti akan membunuhmu begitu keluar dari tempat terkutuk ini! LEPAS!” “Aku tunggu hari itu tiba,” jawab Lucas tanpa beban, “tapi sayangnya hari itu tidak akan datang, Baby.” Sumpah serapah Ivy tak sedikit pun menggoyahkan Lucas. Alih-alih melonggarkan pegangannya, jemarinya justru semakin mengetat, memaksa wanita itu terus mengikutinya tanpa memberi kesempatan untuk melepaskan diri. Dia menyeret Ivy melewati lorong, sebelum akhirnya menuruni tangga menuju bagian bawah rumah yang selama ini belum pernah gadis itu lihat. Suasana di sana terasa dingin dan lembap, mengisyaratkan area yang tersisolasi dari dunia luar. Langkah Lucas terhenti di depan sebuah pintu besi. Ia membuka kaitnya dengan satu gerakan, lalu mendorong Ivy masuk hingga wanita itu tersungkur di atas lantai beton yang dingin. “Sebenarnya aku ke sini hanya untuk mengajakmu makan siang bersama. Tapi kau malah me
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







