Ghea menatap Devan, lalu menatap map di pangkuannya, lalu menatap tablet yang masih menampilkan video Arka dan Nadia yang tertawa bahagia. Jari-jarinya gemetar hebat, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya, bukan lagi kekosongan, tapi kegelisahan yang penuh makna."Kamu ingin aku... melawan mereka?" suara Ghea serak, nyaris tak terdengar, seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk.Devan menatapnya dalam-dalam, tidak berkedip. "Aku ingin kamu hidup, Ghea," jawabnya tegas, suaranya penuh keyakinan. "Aku ingin kamu bangkit dari tempat tidur ini, menyingsingkan lengan bajumu, dan menunjukkan pada mereka bahwa kamu bukan wanita yang bisa mereka injak-injak. Aku ingin kamu membalas semua yang mereka ambil darimu. Bukan untuk aku. Tapi untuk dirimu sendiri. Dan untuk anakmu."Nama terakhir itu menggantung di udara, berat dan penuh makna. Ghea merasakan matanya panas, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Tapi kali ini berbeda. Bukan air mata kesedihan yang dulu sering dia tumpa
Last Updated : 2026-07-15 Read more