Arka menatap Ghea dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan dan hasrat kepemilikan yang menggebu. Matanya yang merah karena kurang tidur dan penuh penyesalan, tidak pernah lepas dari wajah Ghea yang tenang dan anggun di bawah cahaya lilin. Di dalam hatinya yang kacau, dia merasakan gelombang emosi yang tidak bisa dia kendalikan—penyesalan, kerinduan, dan keinginan untuk memiliki kembali wanita yang telah dia sia-siakan."Ghea," bisik Arka, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Aku tidak bisa terus hidup dengan penyesalan ini. Setiap malam, aku terbangun dan mengingat semua yang telah aku lakukan padamu. Aku telah menghancurkanmu, dan aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya."Dengan gerakan perlahan dan penuh keraguan, Arka menjangkau meja dan mencoba menggenggam jemari Ghea. Tangannya bergetar saat menyentuh kulit Ghea yang lembut, dan dia menggenggamnya erat-erat, seolah-olah dia takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya."Aku minta maaf," kata Arka, sua
Last Updated : 2026-08-19 Read more