Devan merasakan dadanya sesak. Wanita di hadapannya ini, bagai mayat hidup. wanita yang dulu begitu bersemangat, begitu percaya diri, yang meninggalkannya lima tahun lalu untuk menikah dengan pria lain, kini terlihat seperti boneka yang hancur. Tidak ada lagi percikan semangat di matanya. Tidak ada lagi perlawanan. Tidak ada lagi Ghea yang dia kenal."Ghea," bisiknya lagi. Kali ini suaranya lebih lembut, hampir seperti berbisik pada anak kecil. "Aku di sini. Kamu tidak sendiri. Aku tidak akan pergi.” Memberikan dukungan adalah hal pertama yang Devan lakukan untuk Ghea. “Aku bersamamu, Ghea.”Dengan sangat hati-hati, Devan mengulurkan kedua tangannya dan menarik Ghea ke dalam pelukannya. Tubuh Ghea kaku pada awalnya, seperti patung yang tidak mau bergerak. Bahunya terasa tegang, otot-ototnya mengencang seolah siap melawan.Tapi perlahan, detik demi detik, Ghea mulai melunak. Ketegangan di bahunya mulai mengendur. Kepalanya jatuh ke dada Devan, dan tangan yang tadinya menggenggam erat
Last Updated : 2026-07-08 Read more