تسجيل الدخولRaut wajah Arga yang tadinya lembut mendadak berubah kaku. Rahangnya mengeras seketika, menahan rasa panas yang menjalar di dadanya. Tangannya meremas sprei ranjang makin kuat. David yang memperhatikan perubahan itu langsung tertawa puas. “Ha ha ha ha ha ha …. Woaah, luar biasa. Pahlawan kesiangan memang selalu datang di waktu yang tepat. Perhatian, siap siaga dua puluh empat jam. Kalau aku jadi Anna sih, sudah aku pertimbangkan betul-betul.” “Diam kamu, Vid!” bentak Arga tajam. “Kenapa suruh diam? Kan memang kenyataan,” balas David santai, sengaja memprovokasi. “Kamu di sini cuma bisa lihat dari teropong, sementara Regan di sana sudah siap menggantikan posisi kamu di samping Anna.” Arga mengepalkan tangan, napasnya memburu panas. “Aku bilang diam!” Kaisar dan Kayla saling pandang, bingung melihat Arga dan David yang mendadak saling tatap dengan tensi tinggi “Ehem!” David berdehem, berusaha menetralkan suasana sebelum kedua anak itu makin curiga. Dia menegakkan posisi duduknya l
David membantu Arga bergeser dari kursi roda lalu menaikkan tubuh pria itu ke atas ranjang.Kaisar dan Kayla langsung mengambil posisi duduk di sisi kanan dan kiri Arga, menempel rapat seolah takut pria itu mendadak hilang lagi. Arga mengangkat kedua tangannya, menyeka sisa air mata di pipi Kayla dan Kaisar dengan ibu jarinya secara perlahan.“Benar ini panggilan buat Papa? Kalian ... sudah mau menerima Papa?” tanya Arga lirih, matanya menatap kedua buah hatinya bergantian penuh harap.Kayla mengangguk kecil, menatap Arga dengan mata sembap. “Kami kan belum pernah punya Papa dan kami nggak mau kehilangan Papa lagi.”Berbeda dengan adiknya, Kaisar membuang muka sebentar demi menyembunyikan gengsinya, lalu kembali menatap Arga.“Aku cuma merasa Papa belum dapat balasan yang cukup saja setelah dulu bikin Mama menderita,” sahut Kaisar dengan gaya ketus yang dibuat-buat. “Asal Papa tahu, selama ini kami sering diejek teman-teman karena nggak punya Papa. Kami selalu direndahkan, bahkan per
“Arghhh!”Kaisar dan Kayla terpaku di ambang pintu, memperhatikan pria di depan mereka berjuang naik ke ranjang. Tubuhnya yang dulu kokoh kini tampak begitu menyedihkan. Napasnya terengah-engah, wajahnya memerah menahan bobot tubuh, sementara satu tangannya meremas perutnya.“Lihat, Vid. Aku bisa naik ke ranjang sendiri tanpa bantuanmu. Kalau aku berhasil, besok jangan larang aku ke balkon lagi buat lihat anak istriku,” serak suara pria itu semakin membuat dua anak itu teriris mendengarnya.Arga masih mengira sosok yang datang adalah David. Dengan sisa tenaga, dia berusaha menumpuk tumpuan pada kedua kakinya. “Arggghh ….”Sedang Kayla sudah tak bisa menahan diri lagi.“Pa ... Papa?”Suara gemetar itu menghentikan gerakan Arga seketika. Tangannya yang memegang sisi ranjang bergetar hebat.“Papa ... ini sungguhan Papa?” Dada Kaisar berdenyut hebat.Arga menoleh perlahan. Sudut matanya menangkap dua tubuh kecil berdiri kaku dengan mata memerah menahan tangis. “Kaisar ... Kayla ...?” gum
“Ayo, Kai. Aku sudah nggak sabar mau lihat itu Papa beneran atau bukan,” bisik Kayla setengah mengontrol napasnya yang tersengal memburu tak sabar. Kaisar melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan angka sebelas malam. “Pelan-pelan, jangan sampai ketahuan. Tante Yuna pasti sedang menemani Mama di kamar. Jangan sampai buat suara sekecil apa pun.” Kayla mengangguk cepat sambil menekan rapat bibirnya. Kaisar meraih iPad milik mereka, menggeser layarnya dengan sigap. Tangannya bergerak lincah meretas sistem kamera keamanan di rumah sebelah, mematikan jalur rekaman area pekarangan selama beberapa menit agar pergerakan mereka tidak terpantau. Sementara itu, Kayla sibuk memasukkan paser stun gun mini dan semprotan merica ke dalam kantong celananya untuk berjaga-jaga. Tak lupa ada ular mainnya dan ada robot tikus, ular mainan yang sejak siang mereka sudah siapkan. “Sistem CCTV mereka sudah mati,” cicit Kaisar menatap Kayla. “Ayo jalan.” Keduanya menggeser pintu kamar perlahan. S
Kayla menahan tangis sampai bibirnya gemetar parah. “Tapi aku mau lihat Papa, Kai! Kamu lihat sendiri kan kalau dia pakai kursi roda? Pasti dia lagi kesakitan!” “Aku tahu!” Kaisar setengah berbisik, matanya menatap Kayla tajam. “Tapi kita juga harus paham situasi. Kita harus merencanakan semuanya dengan rapi. Papa menyembunyikan semua ini dari kita pasti alasannya nggak sederhana. Atau ... itu bahkan bisa saja Papa palsu! Pokoknya kita harus cari tahu sendiri. Kita harus jadi detektif dulu untuk masalah ini.” Kayla menyapu air matanya kasar, lalu mengangguk lambat. Pandangannya mendadak teralih ke arah samping, ke balkon tempat mama mereka berdiri. “Kai, lihat Mama,” cicit Kayla, suaranya makin pecah. “Kasihan Mama. Kita harus cepat bergerak.” Di ujung sana, mereka menyaksikan sendiri bagaimana mamanya meronta-ronta histeris di pelukan Yuna, menangis meraung-raung sampai hampir melompat melewati pembatas balkon demi mengejar bayangan suaminya. Hati si kembar serasa teriris meliha
Arga tak terima, matanya nyalang menatap David. “Tutup mulut konyolmu itu, Vid! Hati Anna itu seputih salju. Dia tidak akan pernah menyimpan dendam busuk seperti yang ada di pikiran licikmu itu!”David mendecih keras sambil menepuk jidatnya sendiri. “Salju kepala otakmu! Ingat ya, salju kalau diinjak-injak terus juga bakal ambyar! Kamu pikir Anna itu malaikat tanpa emosi? Kalau nanti dia tahu kamu masih hidup dan membohongi satu dunia, salju seputih apa pun bakal berubah jadi gunung berapi yang siap meledakkan kepalamu!”Arga diam malas menjawab.Di balkon sebelah.Anna memeluk kedua bahunya sendiri. Hatinya begitu hampa. benar-benar terasa hampa. Matanya menatap kosong.‘Bagaimana bisa setelah kamu tidak ada saja, masih ada yang menginginkan jasadmu, Arga? Siapa yang tega mencuri jasadmu? Kami bahkan sempat mengucapkan selamat tinggal?’ batin Anna, rasa sesak menekan dadanya sampai rasanya sulit bernapas.Langkah kaki terdengar dari dalam. Yuna keluar membawa baju hangat tebal, lalu
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du
“Bu Anna, lain kali ajari anak Anda untuk bertindak benar. Jangan cari masalah. Anak saya jadi kena mental karena trofinya hancur. Selamat mencari sekolah baru.” Anna menatap tajam. “Mereka bukan anak haram. Dan merekalah pemenang yang sebenarnya. Hanya kalah dengan uang Anda! Lain kali, ajari ana
“Tiga ratus juta, kamu harus bercerai dan pergi dari hidup anakku.” Manda mendorong selembar cek di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya dengan senyum kecut.Mata Anna menatap angka di kertas itu. Di bawah meja, jemarinya menggenggam lembar sonogram makin erat. Ada denyut kehidupan kecil yang







