تسجيل الدخولPemandangan kota dengan kelap kelip lampu kendaraan begitu indah jika dipandang dari atas, belum lagi menikmati hembusan angin yang menerpa seakan menenangkan hati.Kafka memejamkan mata sejenak, merasakan terpaan angin yang menabrak wajah tampannya. Kedua tangannya tetap bertumpu pada tiang besi balkon apartemennya. Di sampingnya sudah ada sebungkus rokok yang hampir tidak pernah dia sentuh sama sekali. Kafka berjanji pada mendiang ibunya untuk tetap menjauhi benda terlarang itu.Tapi, kali ini sepertinya Kafka akan mengingkari janji pada ibunya, membersamai rasa sakit dan sesak di dada dengan kepulan asap yang mengudara, terbang terbawa angin malam.Satu hembus, dua hembus hingga habis satu batang. Kafka terkekeh ringan, meratapi hidupnya yang tidak punya jalur lurus seperti teman-temannya yang lain. Rasanya, hidup Kafka sudah terlalu hambar.Dua batang Kafka beranikan, ini mungkin akan menjadi malam panjangnya setelah sekian lama dia sengaja mengubur perasaan itu dalam-dalam.Pera
Kafka baru saja menginjakkan kaki di apartemen saat dia mendapati sosok ayahnya di belakang. Pria itu mengikuti Kafka sejak di basement.Kafka hendak menutup pintu, tapi ayahnya menahan. Tatapan matanya sendu. "Biarkan Papa masuk, Kafka. Papa perlu bicara sama kamu." Kafka menghela nafas pendek sebelum akhirnya dia memperbolehkan ayahnya masuk ke dalam apartemennya yang terang benderang. "Mau minum apa?"Ayahnya menatap Kafka bingung. "Hm? Kamu nawarin Papa minum?" "Basa basi." "Apa saja, boleh," sahutnya atas pertanyaan Kafka sebelumnya.Kafka meletakkan dua kaleng minuman soda di pantry, membuka satu kaleng untuk dirinya. Dan, memberikan satu lagi ke hadapan ayahnya."Ada perlu apa?" Pria tua di hadapannya tersenyum menunduk, ikut membuka kaleng soda yang memancarkan beberapa tetes isinya ke celana hitamnya. "Hanya kangen dengan apartemen ini." Meneguk minuman, tapi matanya mengedar. "Apartemen ini sudah banyak berubah sejak Bundamu pergi." Kafka menahan gerakannya, dia mendong
"Apa perlu gue nembak lo ulang? Biar satu sekolah tau, kalau lo itu punya gue dan akan selalu jadi punya gue." Ucapan Kafka berhasil membuat kepala Olivia menggeleng cepat. "Nggak, malu." Kafka yang sedang berdiri, kembali menganggukkan kepalanya. "Ya … kali aja Lo mau. Biar semua orang tau kalau Olivia cuma buat Kafka." "Apa sih, Kafka …." "Lah? Salting? Merah itu pipinya …" Kafka menunjuk pipi Olivia yang bersemu kemerahan. Kedua tangan Olivia naik memegang pipinya, dia sepertinya harus menjauhi Kafka mulai saat ini. Dekat-dekat dengan Kafka tidak membuat Olivia nyaman, justru merasa terancam. Sedikit salah saja taruhannya malu. Kafka beranjak meninggalkan Olivia yang terduduk dengan menahan senyumnya, sampai pegal kedua pipinya. Setelah Kafka benar-benar keluar dari kelas, barulah Olivia bisa tersenyum lebar sembari menunduk. "Olivia!" Suara Sarah menggema di ambang pintu kelasnya. Gadis itu melangkah cepat menuju arahnya. "Lo jatuh di koridor tadi? Si Panji liha
Olivia baru saja menginjakkan kaki di sekolah dengan keadaan riuh ramai. Koridor yang biasanya sepi, kini ramai dan penuh dengan orang-orang berlarian.Beberapa dari mereka datang dengan seragam yang basah kuyup, wajah kesal dan juga bibir misuh-misuh.Kafka yang menyadari kondisi di depannya sudah tidak lagi kondusif langsung menarik Olivia menuju lantai dua, tempat kelas mereka berada."Ngapain buru-buru sih, Kafka? Nggak lihat orang-orang lagi pada lari-larian, gue takut ketabrak sama mereka." Olivia masih mengikuti langkah besar Kafka.Kafka sibuk membelokkan badannya kanan dan kiri, menghindari kerumunan orang yang saling berteriak.Keadaan lantai dua juga tidak kalah kacau, air menggenang di lantai, bekas jejak kaki, bekas tanah. Oh, jangan lupakan bekas-bekas tisu yang memenuhi tempat sampah.Olivia bergidik ngeri memandang ini semua. Dia tidak habis pikir kalau ternyata efek banjir tadi juga membuat sebagian anak-anak di sekolahnya kerepotan."Kafka," Olivia baru merasakan tel
Sinar matahari datang dengan langit yang masih pucat, sisa hujan semalam meninggalkan titik-titik air di sepanjang kaca jendela dan dedaunan di halaman rumah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah yang samar setiap kali angin masuk melalui celah jendela. Olivia berdiri di depan cermin, merapikan kerah seragamnya untuk kesekian kali. Setelahnya, menyemprotkan parfum di beberapa titik. Olivia telat bangun hari ini karena semalam dia tidak bisa tidur karena listrik padam, hanya ditemani cahaya senter dari ponsel, dia berusaha berkali-kali memejamkan mata. Tapi, tidak berhasil Hingga, pukul empat pagi dia baru bisa tertidur dengan nyenyak karena listrik sudah menyala. Hembusan napas lelahnya lagi-lagi keluar dari bibir. Gara-gara kejadian itu, dia jadi telat bangun dan lagi, Kafka yang katanya mau menjemputnya belum kunjung tiba. Olivia melirik jam di ponselnya. Pukul tujuh lewat dua menit. "Astaga." Olivia buru-buru mengambil dasinya yang tergeletak di a
Langit sudah berubah menjadi hitam pekat ketika Olivia akhirnya menyelesaikan tumpukan tugas sekolahnya. Ulangan harian yang tinggal menghitung hari membuat meja belajarnya nyaris tak pernah benar-benar kosong dari buku dan catatan. Di sampingnya, semangkuk buah-buahan pemberian Mbok tadi masih tersisa, menemani malam belajarnya. Getaran panjang dari ponselnya sedikit mengalihkan perhatian Olivia. Ekor matanya melirik layar, menangkap nama yang tertera di sana. Laki-laki ini lagi. "Apa?" jawab Olivia ketus. "Gue ada titipin salt bread ke nyokap lo, nanti di —" "Nggak!" potong Olivia cepat. "Gue lagi belajar, jangan ke sini. Nggak bosen emang hampir tiap malam lo dateng?" Terdengar suara kekehan di seberang sana. "Santai, cuma titip makanan. Gue nggak mampir dulu, ada urusan." "Ya udah." Olivia langsung memutus sambungan sebelum laki-laki itu sempat mengatakan hal lain. Ponselnya diletakkan kembali di atas meja, sedikit membantingnya. Tatapannya kembali pada buku yang terbuka d
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan







