Layar ponsel pintar itu perlahan meredup, menyisakan pantulan bayangan wajah Jaka di permukaan kaca yang mengilap. Nada penutup panggilan dari Andini baru saja memudar, meninggalkan keheningan yang merayap di sekeliling kamar tidurnya. Tepat pada detik itu, hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuknya, memicu instingnya untuk segera menoleh ke arah celah pintu yang terbuka separuh.Sepasang manik mata bundar berkilau dalam kegelapan lorong, menatapnya lurus tanpa berkedip sedikit pun. Dina berdiri mematung di sana dengan kedua tangan terlipat kaku di depan dada. Bibirnya mengerucut tajam, memancarkan aura kecurigaan dan permusuhan yang menyala membara di sekeliling tubuh mungilnya.Sudah seminggu penuh rumah mereka diselimuti atmosfer aneh yang menyesakkan ini. Gadis itu selalu melayangkan pandangan tajam seolah menuntut penjelasan ke mana pun Jaka melangkah. Jaka sudah berulang kali memanggil Dina, tetapi selalu diabaikan mentah-mentah dengan dengusan dingin yang menusuk.Hari ini, t
Última atualização : 2026-08-19 Ler mais