Home / Pendekar / Petani Terkuat / 129 Perasaan Andini

Share

129 Perasaan Andini

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-08-21 18:52:41

Jeanne, Rosa dan Selia menerobos tingkat dua tanpa masalah.

Efek pembersihan raga tingkat dua mengubah kondisi fisik mereka secara nyata di bawah sorotan matahari pagi yang menembus celah jendela kayu.

Kulit mereka menjadi lebih kencang, glowing, dan terlihat lebih muda dibanding hari kemarin. Keanggunan alami terpancar dari setiap gerak tubuh mereka yang kini dialiri energi murni berkekuatan luar biasa.

Jaka melangkah maju seraya melipat kedua tangan di depan dada. Binar kepuasan terpancar sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   130 Perasaan Rumit Seorang Wanita

    Hamparan perkebunan buah membentang luas di bawah siraman hangat cahaya matahari pagi. Suara derit dahan pohon berpadu gesekan dedaunan saat tiga sosok bayangan melesat lincah dari pohon ke pohon. Jeanne, Rosa, dan Selia bergerak dengan ketangkasan yang melampaui nalar manusia biasa. Dalam sekejap mata, puluhan dahan yang sarat buah ranum telah dipetik bersih tanpa merusak tangkai tanaman.Keranjang-keranjang bambu berukuran besar terisi penuh menggunung dalam hitungan menit saja. Kecepatan dan koordinasi gerak ketiga wanita itu tampak begitu selaras, seolah tubuh mereka dialiri energi tanpa batas berkat lonjakan kekuatan tingkat dua yang baru saja mereka raih. Gerakan tangan mereka sangat cepat menyambar buah-buah terbaik dan menatanya rapi ke dalam wadah bambu.Hina Yulia yang berdiri di tepi jalan setapak kebun terperangah menatap pemandangan absurd tersebut sembari mendekap papan catatan kayunya erat-erat. Sepasang matanya membulat sempurna, menyaksikan tumpukan hasil panen yan

  • Petani Terkuat   129 Perasaan Andini

    Jeanne, Rosa dan Selia menerobos tingkat dua tanpa masalah.Efek pembersihan raga tingkat dua mengubah kondisi fisik mereka secara nyata di bawah sorotan matahari pagi yang menembus celah jendela kayu. Kulit mereka menjadi lebih kencang, glowing, dan terlihat lebih muda dibanding hari kemarin. Keanggunan alami terpancar dari setiap gerak tubuh mereka yang kini dialiri energi murni berkekuatan luar biasa.Jaka melangkah maju seraya melipat kedua tangan di depan dada. Binar kepuasan terpancar sangat jelas dari raut wajahnya yang tampak lega."Selamat atas terobosan kalian, kalian jadi lebih cantik dari sebelumnya," puji Jaka santai sembari memandangi mereka satu per satu dengan senyuman ramah.Jeanne menyibakkan helaian rambut emasnya ke belakang telinga. Ia bergerak maju satu langkah dengan tatapan mata yang menyelidik tajam."Hee, apa sebelumnya kami tidak cantik?" sahut Jeanne, menyunggingkan senyum lembut yang terlihat berbahaya.Jaka terkesiap lalu buru-buru melambaikan kedua tang

  • Petani Terkuat   128 Panen Kilat dan Setetes Cairan Spiritual Murni

    Ketika roda sepeda motor berbelok memasuki pekarangan rumah, tiga sosok wanita sudah berdiri menunggunya di bawah naungan pohon rindang. Begitu langkah kaki Jaka menjejak tanah pelataran, riak energi tak kasat mata dari tubuhnya menyapu udara di sekitar mereka.Ketiga wanita itu tersentak seketika, menatap Jaka dengan mata membelalak lebar."Kamu menerobos lagi?" tanya Jeanne heran, suaranya bergetar akibat keterkejutan yang nyata.Rosa dan Selia yang berdiri di sampingnya terdiam kaku. Lidah mereka seolah kelu untuk merangkai satu patah kata pun di hadapan aura baru pemuda itu."Ha ha ha, aku hanya beruntung. Bukankah kalian juga hampir menerobos tingkat dua fase permulaan?" ujar Jaka berusaha mencairkan suasana kaku di antara mereka."Memang, tapi masih butuh banyak waktu untuk mendapatkan terobosan," jawab Jeanne dengan nada sedih. Helaian rambut emasnya berkilau indah saat terkena terpaan sinar matahari pagi yang menembus sela-sela dedaunan.Rosa menyibakkan rambut hitamnya yang

  • Petani Terkuat   127 Terobosan

    Udara dingin di dalam kamar perlahan berputar membentuk pusaran tipis sebelum terserap ke pori-pori kulitnya. Jaka membuka kedua kelopak matanya perlahan. Dari celah bibir dan hidungnya, hembusan udara keruh berwarna kelabu terdorong keluar, menyatu dengan udara pagi yang menusuk tulang.Sensasi hangat yang sebelumnya bergolak liar di jalur energinya kini mengendap tenang pada titik pusat kekuatannya. Dinding pembatas yang selama beberapa hari terakhir menahannya telah runtuh tanpa menyisakan rasa sakit.Tingkat lima fase permulaan.Jaka mengepalkan telapak tangan kanannya. Udara di sekitarnya terasa sedikit bergetar, merespons aliran energi spiritual yang jauh lebih padat dan kokoh dibanding kemarin malam. Tubuhnya terasa seringan bulu, namun menyimpan daya hantam yang mampu meremukkan batu dengan satu entakan jari.Sensasi peningkatan ini langsung memicu hitungan otomatis di benaknya.Jumlah cairan spiritual murni yang bisa diproduksi setiap hari naik dua kali lipat menjadi enam

  • Petani Terkuat   126 Obrolan Tengah Malam Ayah dan Anak

    Keheningan kembali merayap di lorong rumah kayu itu begitu pintu kamar Dina tertutup rapat. Bunyi detak jam dinding tua bergema pelan dengan ritme yang teratur, mengisi ruang kosong di antara ayah dan anak yang masih berdiri berhadapan. Cahaya lampu temaram menyorot bayangan panjang mereka yang saling bersilangan di lantai."Kamu juga, kenapa belum tidur?" tanya Bejo kepada Jaka seraya memandang putranya dengan tatapan teduh."Ah, aku baru mau tidur sekarang," sahut Jaka pelan sambil melangkah mendekat. "Ayah sendiri kenapa belum tidur? Padahal sudah hampir larut."Bejo menggaruk punggung kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika merasa canggung atau sedang memikirkan beban pikiran yang berat. Punggungnya yang kokoh tampak sedikit membungkuk karena kelelahan, namun sorot matanya tetap menunjukkan ketenangan seorang kepala keluarga."Aku tidak bisa tidur. Karena itu, aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar," ucap Bejo den

  • Petani Terkuat   125 Hukuman

    Layar ponsel pintar itu perlahan meredup, menyisakan pantulan bayangan wajah Jaka di permukaan kaca yang mengilap. Nada penutup panggilan dari Andini baru saja memudar, meninggalkan keheningan yang merayap di sekeliling kamar tidurnya. Tepat pada detik itu, hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuknya, memicu instingnya untuk segera menoleh ke arah celah pintu yang terbuka separuh.Sepasang manik mata bundar berkilau dalam kegelapan lorong, menatapnya lurus tanpa berkedip sedikit pun. Dina berdiri mematung di sana dengan kedua tangan terlipat kaku di depan dada. Bibirnya mengerucut tajam, memancarkan aura kecurigaan dan permusuhan yang menyala membara di sekeliling tubuh mungilnya.Sudah seminggu penuh rumah mereka diselimuti atmosfer aneh yang menyesakkan ini. Gadis itu selalu melayangkan pandangan tajam seolah menuntut penjelasan ke mana pun Jaka melangkah. Jaka sudah berulang kali memanggil Dina, tetapi selalu diabaikan mentah-mentah dengan dengusan dingin yang menusuk.Hari ini, t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status