Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela dengan irama yang liar, seolah mencerminkan kekacauan yang bergejolak di dalam kamar itu. Ardi membalikkan tubuh Nika, menatapnya dengan tatapan yang nyaris tak bisa dikenali, sebuah campuran antara rasa lapar yang tertahan dan perlindungan yang posesif. "Kamu terlihat luar biasa di bawah lampu ini," bisik Ardi, suaranya parau, hampir tenggelam dalam desah napasnya sendiri. Nika membalas tatapan itu, jari-jarinya meremas seprai dengan kuat. "Jangan terus menatapku seperti itu, Ardi. Kamu membuatku merasa seperti sedang diburu." Ardi terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang bergetar di dada Nika. "Memang itu tujuanku. Aku ingin memburumu, Nika. Aku ingin memiliki setiap inci dari dirimu malam ini, seolah besok tidak akan pernah ada." "Kenapa kamu seserius itu?" tanya Nika, napasnya mulai memberat saat tangan Ardi mulai menelusuri lekuk tubuhnya dengan penuh pemujaan. "Karena aku mencintaimu, Nika. Terlalu banyak, sam
آخر تحديث : 2026-07-17 اقرأ المزيد