Bus berhenti di depan gerbang kampus dengan decit rem yang nyaring, meninggalkan debu tipis yang berterbangan di udara. Suasana sekitar masih riuh oleh mahasiswa yang baru saja pulang, namun bagi Nika dan Ardi, dunia seolah menyempit, hanya menyisakan mereka berdua di antara hiruk-pikuk itu. Ardi menggenggam tangan Nika dengan sangat erat, seolah takut gadis itu akan hilang ditelan keramaian. "Ardi, pelan-pelan sedikit! Tas kita masih di bagasi bus, kak Gibran yang urus semuanya," protes Nika sambil berusaha mengimbangi langkah lebar Ardi yang terburu-buru. Ardi menoleh, senyum tipis yang penuh arti tersungging di bibirnya. "Gibran sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sekarang, prioritasku cuma satu, sarapan. Aku lapar sekali." Nika mendengus pelan, meski jari-jarinya semakin mengeratkan tautan pada tangan Ardi. "Tadi bilangnya mau lapor ke Kak Widya dulu, sekarang malah mau sarapan. Kamu ini labil sekali, Ardi." Ardi berhenti melangkah mendadak, membuat Nika nyaris mena
آخر تحديث : 2026-07-15 اقرأ المزيد