로그인Suasana di dalam klub malam itu sungguh seperti neraka yang menyala dalam gelap. Lampu-lampu sorot berwarna merah darah, ungu pekat, dan biru dingin berputar liar di langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding. Dentuman musik elektronik yang berat memecah udara, bergetar hingga ke tulang sumsum, seolah memaksa setiap orang yang ada di sana untuk melepaskan akal sehat dan menyerahkan diri pada kegilaan malam. Bau asap rokok yang menyengat bercampur dengan aroma alkohol mahal, parfum yang terlalu pekat, dan keringat orang-orang yang sedang bergumul dalam riuh rendah kesenangan sesaat. Casandra melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah yang goyah namun penuh tantangan. Rasa kecewa karena ditolak Dimas telah berubah menjadi api yang membakar seluruh kesadarannya. Ia merasa dipermalukan, merasa kecantikannya yang selama ini selalu berhasil memikat siapa saja, ternyata dianggap murahan oleh pria yang sebenarnya ia inginkan. Semakin ia memikirkann
Casandra tertegun sejenak, lalu perlahan duduk tegak di tepi tempat tidur, jubahnya sedikit melorot namun ia tidak peduli. Ia menatap Dimas dengan pandangan tak percaya, campuran antara bingung dan kecewa yang mendalam. “Apa maksudmu?” tanyanya tajam. “Beberapa menit yang lalu kau mendesak seolah ingin menghabiskan waktu bersamaku, dan sekarang kau bilang tidak bisa? Kau sedang mempermainkanku, Dimas?” Dimas memungut jasnya yang berserakan di lantai, segera mengenakannya dengan tergesa-gesa. Ia tidak berani menatap mata Casandra lebih lama, takut gairahnya kembali bangkit dan membuatnya lupa lagi pada apa yang benar dan salah. “Bukan begitu, Casandra. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu,” jawabnya singkat namun tegas. “Tadi aku terbawa suasana, terbuai oleh rasa kesal pada Bu Sari dan rasa ingin membalas dendam pada masa lalu. Tapi tiba-tiba aku teringat istriku. Sari… dia sebenarnya sangat baik padaku. Meski dia kadang keras dan menekan egoku, dia tidak pernah benar-benar menyakit
Setelah ditinggalkan Bu Sari dengan teguran keras di lobi hotel, Casandra tidak langsung pulang. Ia memutar mobilnya perlahan, pikirannya terus melayang pada sosok Dimas yang baru saja ia temui. Dulu saat mendengar cerita tentangnya, Casandra membayangkan pria itu hanyalah lelaki biasa yang tidak berpenampilan menarik, yang beruntung bisa mendekati wanita-wanita sukses. Namun kenyataannya sungguh berbeda: Dimas memiliki rahang yang tegas, sorot mata yang menyimpan ambisi yang belum terpenuhi, dan postur tubuh yang tegap berbalut jas mahal—sangat tampan, bahkan jauh lebih karismatik daripada bayangannya. Saat ia mengingat bagaimana Dimas menatapnya dengan pandangan yang terkejut namun penuh kekaguman, bagaimana tangannya yang kasar namun hangat menyentuh jarinya saat mengambil barang, dan bagaimana wajahnya memerah saat ia sengaja membungkuk, perasaan aneh mulai merayap di dalam dada Casandra. Awalnya ia hanya berniat memanfaatkannya, tapi kini ada sensasi lain yang ikut terbawa—ra
Casandra berjalan dengan langkah mantap keluar dari gerbang rumah Rendra, wajahnya yang tadi tampak bingung perlahan berubah menjadi senyum licik penuh perhitungan. Ia sudah mendengar kabar dari beberapa kenalan lama bahwa Rina bukanlah gadis perawan yang baru pertama kali menikah—ia adalah janda yang pernah mengalami pernikahan pahit dengan seorang pria bernama Dimas. Dan kabarnya, pria itu masih menyimpan rasa benci dan kecemburuan pada mantan istrinya yang kini sukses besar dan menikah dengan orang jauh lebih kaya dan berkuasa. “Itu adalah celah yang sempurna,” gumam Casandra pelan sambil menyalakan mesin mobilnya. “Jika aku tidak bisa memisahkan mereka sendirian, aku akan memanfaatkan orang yang pernah menyakiti Rina duluan. Musuh dari musuhku adalah temanku.” Ia mencari informasi sebentar, dan tak lama kemudian mengetahui bahwa Dimas saat ini bekerja di bawah naungan Bu Sari—pengusaha wanita tangguh yang memiliki perusahaan konstruksi besar, sekaligus menjadi istrinya yang kedu
Cahaya matahari menembus celah tirai kamar, menyentuh kelopak mata Rina hingga perlahan ia terbangun. Tubuhnya masih terasa lemas namun nyaman, sisa kehangatan yang baru saja mereka bagi masih terasa nyata di kulit. Ia bergerak pelan mencari keberadaan Rendra di sampingnya, namun tempat tidur itu sudah kosong. Hatinya sempat berdebar cemas sejenak, namun ia segera menenangkan diri—mungkin suaminya hanya sedang berjalan-jalan di balkon atau mengambil minum. Rina bangkit perlahan, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Saat ia menyibakkan sedikit kelambu untuk melihat ke luar, jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. Di sana, tepat di depan pagar, berdiri Rendra. Dan di hadapannya, ada seorang wanita cantik berpenampilan modis dan berwibawa yang sedang memeluk erat leher Rendra, lalu dengan berani mencium bibir suaminya dalam waktu yang sangat lama. Rina melihat Rendra diam saja, tidak langsung mendorong atau menjauhkan diri. Air mata seketika menggenang d
Udara siang itu terasa begitu damai. Rendra duduk santai di kursi rotan di balkon kamar, memandangi taman yang tertata rapi di bawah sana. Di belakangnya, Rina masih terlelap sangat nyenyak, napasnya teratur, wajahnya tampak begitu tenang tanpa beban seperti baru saja melepaskan segala rasa lelah yang bertahun-tahun ia pikul. Rendra tersenyum kecil setiap kali teringat senyum bahagia istrinya, hatinya terasa penuh dengan rasa syukur yang mendalam. Ia tidak pernah membayangkan bisa memiliki kebahagiaan seindah ini setelah sekian lama hatinya juga sempat hancur berkeping-keping. Pikirannya melayang pelan—dulu, sebelum bertemu Rina, ada sosok yang pernah menguasai seluruh isi hatinya. Sosok yang ia kira adalah pendamping hidup sejati, sosok yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya: Casandra. Namun wanita itu pergi tiba-tiba tanpa pesan, tanpa penjelasan, menghilang begitu saja seperti ditelan bumi saat Rendra paling membutuhkannya. Bertahun-tahun Rendra berusaha melupakannya
Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai
Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci
Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu
Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa







