Malam itu berlalu dengan kegelisahan yang tidak kunjung mereda, membuatku kesulitan memejamkan mata hingga akhirnya fajar datang.Pagi ini aku bercermin sebentar dan langsung terkejut dengan penampilanku yang kacau, kantong mata menghitam, wajah pucat, juga rambut yang berantakan.Tapi entah kenapa perhatianku malah teralihkan ke pantulan bibirku. Aku menyentuhnya sejenak mengingat apa yang terjadi tadi malam, lalu spontan menggeleng cepat dan langsung lari untuk mencuci muka agar menyadarkan diriku yang sepertinya masih tidak waras.Ponsel di meja nakas bergetar tepat setelah aku keluar dari kamar mandi.Aku melihat nama di layar sejenak sebelum menekan tombol hijau. “Halo, Mas Seno.”“Mia, kamu bisa pulang lusa. Tiketnya kamu pesan sendiri.” Suara Seno terdengar dingin.“Pesan sendiri?” aku mengernyit.“Iya, bisa kan? Udah! Sekarang aku mau kerja,” ucapnya tidak sabaran.Biasanya dalam kondisi seperti ini aku akan langsung mengalah padanya. Tapi pagi ini suasana hatiku buruk, membua
آخر تحديث : 2026-07-21 اقرأ المزيد