LOGINHujan deras langsung menyambutku tanpa peringatan ketika melangkah keluar dari rumah megah Tante Ratih.Gaun hitamku basah kuyup dalam hitungan detik, kain berat itu menempel di kulit membuat langkahku melambat. Riasan gothic yang tadinya begitu rapi kini luntur perlahan mengikuti aliran hujan yang membasahi wajahku.Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak taman yang luas menuju gerbang depan, sepatu boots yang kukenakan mulai terasa licin di atas paving basah membuat langkahku goyah beberapa kali.Akhirnya dengan kesabaran yang sudah habis total sejak di pesta tadi, aku berhenti sejenak lalu membungkuk, melepas sepatu itu satu per satu dan melemparkannya sembarangan ke rerumputan di sisi jalan.Aku mengumpat.Dengan kaki telanjang aku terus berjalan menapaki aspal yang dingin dan basah, kerikil-kerikil kecil menusuk kulitku, tapi aku tidak lagi peduli.Semuanya sudah berjalan sesuai rencana, pesta malam ini benar-benar berubah menjadi kacau dan pasti akan meninggalkan jejak yang p
Seno menatapku antara sangsi dan murka, saat ini dia pasti takut aku membocorkan rahasianya di depan orang banyak.“JAGA MULUT KAMU!” Ibu Seno lebih dulu berteriak sebelum Seno melangkah maju. “Jangan sok-sokan merasa kamu tahu segalanya tentang Seno! Aku Ibunya jauh lebih tahu tentang dia dan semua rahasianya.”Aku tersenyum miring mendengar pembelaan yang buta itu. Di mata mertuaku, Seno adalah seorang malaikat yang tidak pernah salah dalam hal apa pun.“Aku istri Mas Seno, Bu. Tidak mungkin aku nggak mengetahui apa-apa tentang dia.” Pandanganku tertuju pada sosok Seno yang mendekat dengan hati-hati, memberiku isyarat agar tidak bicara lebih jauh dari apa yang sudah ku katakan.Tapi aku tidak mau menuruti kehendaknya.“Orang yang Ibu banggakan selama ini, sebenarnya…”“Cukup, Mia!” potong Seno cepat, mengangkat tangannya berusaha menghentikanku. “Sekali lagi kamu bicara, urusan di antara kita nggak akan berakhir mudah!”Aku mendengus, lihatlah orang-orang ini. Aku berdiri di tengah
Begitu Friska berpaling sejenak untuk menyapa tamu lain yang mendekat, Seno buru-buru meraih lenganku dan menariknya menuju sudut yang lebih sepi. Kami berdiri di dekat pilar besar berukir yang menjulang di tepi aula.“Mia, kamu gila, ya?!” desis Seno, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar tamu lain. “Ngapain kamu dandan kayak gini?! Bikin aku malu tahu nggak!” Mata Seno menyala marah.“Emang kenapa kalau aku pakai gaun ini?” tanyaku, mengangkat dagu seolah balik menantangnya. “Toh aku suka. Bukannya nggak ada aturan resmi soal tamu harus pakai gaun kayak apa?”“Mia!” bentaknya.“Ini pesta ulang tahun Mas, bukan fashion show yang punya dress code ketat.” potongku dengan suara tenang. “Aku mau pakai apa yang aku suka.”Seno menggertakkan gigi dengan kedua tangan mengepal, dia jelas ingin membentakku dengan keras tapi tertahan karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang. Dia menatapku lama, wajahnya memerah menahan emosi.Pada akhirnya Seno hanya bisa mendengus kas
Halaman rumah megah bergaya klasik eropa milik tante ratih dipenuhi lampu taman yang berkelap-kelip. Valet parkir terlihat sibuk mengarahkan mobil-mobil yang masuk, salah satunya mobil Friska yang melaju pelan berjejer rapi dengan mobil lainnya.Aku dan Friska melangkah keluar mobil hampir bersamaan, menciptakan pemandangan yang cukup dramatis. Dan detik itu juga, seluruh mata yang berkumpul di teras langsung berpaling ke arah kami.Semua ini tentu saja bukan hanya karena penampilanku yang mencolok, tapi karena kejomplangan yang begitu jelas antara pakaianku dan Friska. Gaun dusty pink lembut yang dikenakan Friska membuatnya terlihat bagai tokoh utama dalam drama romansa.Sementara aku, berdiri di sampingnya bagaikan antagonis yang sengaja muncul untuk merusak suasana bahagia.Beberapa tamu berbisik-bisik, ada juga yang terlihat cekikikan. Tapi aku tidak peduli.Aku melangkah maju dengan percaya diri, sepatu boots-ku mengetuk pelan di anak tangga marmer, pesta ini benar-benar sama per
Ponselku bergetar di atas meja salon, menampilkan nama Seno di layarnya. Aku menekan tombol jawab sambil memperhatikan kukuku yang baru selesai dipasangi kuku palsu.“Halo.”“Mia, kamu masih lama nggak? Aku sama Ibu udah mau berangkat, nih.” Suara Seno di seberang sana terdengar tidak sabaran.Aku sedikit memiringkan kepala, membuat make-up artis yang sedang mengaplikasikan eyeliner tebal di sudut mataku berhenti sebentar. “Aku masih di salon, Mas.”Seno mendesah gusar. “Kamu lambat, aku nggak mau nungguin kamu, Mia. Aku berangkat duluan aja sama Ibu!” gerutu Seno, aku yang tidak terlalu peduli dengan hal itu menoleh pada make-up artis di sebelahku, mengangguk padanya agar melanjutkan pekerjaan.“Iya, iya… Kamu sama Ibu duluan aja,” jawabku tenang.“Kamu jangan sampai telat. Jangan bikin malu di depan keluarga besar!” ucap Seno bersungut-sungut.Bikin malu? Yang ada aku yang bakal di permalukan di sana. Kalian semua sengaja membawaku ke pesta itu hanya untuk jadi bahan olok-olok.“Iya
Friska sudah pulang satu jam sebelum waktu makan malam.Suara sendok beradu di piring porselen, gelas kristal sesekali terdengar berdenting. Keheningan seperti biasa menghiasi meja makan panjang keluarga Handoko, hanya ada selingan suara pelayan yang sesekali datang mengganti hidangan.Aku duduk di posisi biasa, menyendok sup ayam perlahan karena panas. Sementara Seno di kursi kepala keluarga sibuk menggulir ponsel di sela suapannya.Hingga Ibu Seno tiba-tiba memecah keheningan.“Seno, Ibu baru aja ngundang satu orang lagi buat pesta ulang tahun Tante Ratih lusa.” Dia berkata dengan nada senang. “Orang ini bukan orang biasa, lho.”Seno mendongak dari ponselnya dengan gerakan malas, mendesah berat. “Bu, undangan udah disebar banyak banget. Kolega, teman arisan Ibu, ketua yayasan, sekarang siapa lagi yang mau Ibu undang?”“Tapi rasanya sayang banget kalau nggak ngundang dia,” ucap Ibu Seno sambil mengangkat dagu sedikit bangga, lalu menoleh tajam ke arahku. “Entah gimana caranya Mia bis







