共有

33. Penolakan

作者: Shyneko
last update 公開日: 2026-07-19 22:06:56

Bahuku menegang saat Isabel memanggil namaku seperti orang yang akan diinterogasi.

“Ya?” Aku menjawab dengan suara datar.

“Kamu sama Bara belakangan ini aku lihat dekat banget, ya. Jangan-jangan kamu juga tertarik jadiin dia situationship?”

Pertanyaan itu membuat Sam yang duduk di samping Isabel langsung menyenggolnya dengan mata melotot.

“Yang bener aja, Isabel! Jangan ngomong sembarangan gitu, ah. Mia kan udah punya suami!”

Isabel yang nampak tersadar buru-buru menutup mulutnya. “Astaga, maaf
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   78. Bye,Pengkhianat!

    “Lihat, bahkan Ibu sudah mengakuinya,” ucapku dingin ke arah Bibi Sona. “Jadi, lebih baik Bibi juga mengaku sekarang kalau Bibi lah yang mencuri kotak perhiasan Ibu.”Bibi Sona mundur dua langkah, dia tidak bisa lagi melakukan alibi apa pun, sedangkan suami Bibi Sona mendekat ke arahku dengan wajah marah.“Berani-beraninya kamu menuduh istri saya! Ini jelas-jelas jebakan!” serunya tidak terima dengan perkataanku.“Siapa yang menjebak? Buktinya sudah sejelas itu, kok! Kapan sih kalian orang-orang kepala batu berhenti denial?” Aku sama sekali tidak gentar melihat ekspresi suami Bibi Sona yang sudah seperti beruang terluka, bersiap hendak menyerangku.“Dasar wanita sialan!”Tiba-tiba suami Bibi Sona menghambur ke arahku, tangannya terjulur hendak mencengkram leherku.“Tahan, Pak!” Dua atau tiga orang pelayan langsung bergerak melindungiku, membentuk pagar dengan tubuh mereka. “Tidak boleh ada kekerasan di sini, mau bagaimana pun juga Nyonya Mia itu majikan kita.”Tanganku gemetar pelan,

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   77. Bukti Jelas

    Kembali ke waktu sekarang, di ruang aula tempat semua orang berkumpul.“Pencuri perhiasan itu, adalah orang ini,” suaraku menggema jelas di seluruh ruangan.“Bibi Sona.”Semua orang seketika diam, atmosfer ruangan terasa penuh dengan ketegangan dan rasa terkejut yang pekat. Rasanya begitu hening tapi sesak, aku bahkan sampai bisa mendengar detak jantung sendiri.Sampai tiba-tiba tawa Ibu Seno terdengar memecah keheningan. Suara tawa yang begitu sinis dan meremehkan.“Ha ha ha… Astaga, Mia. Apa kamu udah sebegitu putus asanya mau mempermalukan Bibi Sona sampai-sampai berani ngomong hal yang nggak masuk akal kayak gini?” katanya menggeleng-gelengkan kepala, menyeka sudut mata seolah menahan air mata karena terlalu geli.Beberapa pelayan ikut tertawa mengejek, jelas sengaja menunjukkan keberpihakan mereka. Tapi ada pula pelayan lainnya yang justru diam, mereka tidak ikut tertawa dan malah menyipitkan mata penuh curiga, tanda bahwa suara di antara para pelayan mulai terbelah.Bibi Sona mu

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   76. Rangkaian Rencana

    Aku bergerak cepat mencari tempat persembunyian, menyelipkan diri di balik tirai besar yang menggantung dekat jendela koridor. Langkah kaki orang itu membuatku menahan napas, tubuhku menempel serapat mungkin dengan dinding.Semoga dia tidak menyadari keberadaanku di sini.Suami Bibi Sona akhirnya melintas di depanku, rasanya begitu dekat hingga aku bisa mencium samar aroma rokok yang menempel di seragamnya.Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati semoga dia tidak menoleh dan menyadari keberadaanku yang bagai gundukan kecil di balik tirai ini.Beberapa detik terasa seperti satu abad lamanya, hingga akhirnya suara langkah itu terdengar menjauh.Aku memberanikan diri mengintip sedikit, suami Bibi Sona terlihat membuka pintu ruang keamanan tanpa sedikit pun rasa curiga, lalu menutupnya dengan santai.Aku menghela napas panjang sembari memegangi dada yang masih berdegup liar. Setelah memastikan koridor benar-benar aman, aku melangkah keluar dari balik tirai itu dengan langkah super hati-hat

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   75. Aksi yang Beresiko

    Perkataan Bara membuatku sedikit bingung. “Maksud kamu?”Bara mulai menjelaskan idenya, suaranya yang bersemangat membuatku mendengarkan setiap detailnya tanpa mau melewatkan sedikit pun. Penjelasan itu terus mengalir dan semakin lama Bara bicara, mataku semakin membulat karena berbagai ide mulai bermunculan di kepalaku.“Bara,” ucapku sambil tersenyum lebar. “Aku rasa… Aku udah punya gambaran rencana yang lebih baik setelah mendengar saran dari kamu.”“Oh ya? baguslah kalau gitu.” Bara terdengar senang.“Iya, hanya tinggal satu hal lagi,” kataku sengaja menggantung kalimat.“Apa itu?” tanya Bara penasaran.“Kayaknya aku butuh satu alat buat menunjang rencana ini biar berhasil. Kamu bisa bantu aku?”“Tentu, bilang aja apa yang kamu butuhin, Mia,” balas Bara, aku langsung menyebut nama barang itu yang membuat dia terkekeh pelan.“Oke, itu bukan permintaan yang sulit.” Aku menghela napas lega mendengarnya.“Makasih banyak, Bara,” ucapku tulus.“Anytime, Mia. Semoga rencana kamu berhasil

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   74. Aku Tahu Siapa Pencurinya

    Bibi Sona tidak langsung menjawab, matanya bergerak liar ke sana kemari berusaha menghindar. Dia hanya bisa duduk di kursinya dengan jemari yang saling meremas gelisah.Aku yang tidak mau menunggu jawaban Bibi Sona lebih lama berbalik menatap Ibu Seno lekat-lekat, telunjukku terangkat langsung ke arahnya.“Ibu pasti sudah tahu kalau ada kejanggalan dari rekaman ini, kan? Tapi Ibu tetap pakai rekaman konyol ini buat bikin aku disalahkan atas sesuatu yang nggak pernah ku lakuin.”Detik itu juga Ibu Seno langsung membuang muka dengan rahang mengeras, matanya menghindari tatapanku seperti Bibi Sona. Niat busuknya itu baru saja terbongkar.“Dan Bibi,” Aku melotot kembali menatapnya, bahunya tampak menegang.“Bisa-bisanya Bibi segitu pedenya ngasih rekaman palsu ini di tengah banyak orang, pasti karena Bibi ngira gimana pun jadinya, aku bakal tetap ngerasa bersalah dan pasrah, begitu?!”Mulut Bibi Sona megap-megap, jelas hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu pun kata yang sanggup ke

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   73. Rekaman CCTV

    Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Ibu Seno, pertemuan itu dilangsungkan pagi-pagi sekali di aula mansion. Para pelayan mulai berdatangan, berjejer rapi memenuhi ruangan yang biasanya sering digunakan untuk pertemuan penting, perayaan, atau pesta itu.Tapi hari ini, suasananya berubah seolah menjadi tempat penghakiman.“Mia, Seno sudah bicara denganku tadi malam.” Ibu Seno mendatangiku yang sedang berdiri di lorong lantai dua, melihat riuh rendah para pelayan yang tampak tidak sabaran.Bibi Sona mengikuti di belakangnya.“Dia ingin aku membatalkan pertemuan ini, tapi aku menolaknya. Jadi dia merajuk dan pergi ke kantor tanpa berpamitan,” Aku berdecak pelan mendengar ucapan Ibu Seno.Dasar anak mami.“Apa yang mau Ibu lakukan denganku di depan orang sebanyak ini?” tanyaku dengan nada datar.“Aku mau kamu mengakui perbuatan bodohmu itu dan dipermalukan di depan semua orang agar jera. Itu yang aku mau,” Ibu Seno mengangkat dagu pongah.“Tapi gimana kalau aku punya bukti bahwa aku

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status