"Bang, ayo kita pergi. Kalau salah langkah kita bisa mati di tempat ini," bisik Ganta lirih. Suaranya bergetar, dipenuhi ketakutan yang nyata. Tangannya bahkan sempat terangkat, hendak menarik ujung kaos Wira, namun ia urungkan karena ngeri melihat ketegangan yang memancar dari punggung tegap sang seniman tato. Wira tidak bergeming. Sepasang matanya masih terpaku pada sosok Senjana di seberang sana, seolah-olah jika ia berkedip sedetik saja, gadis itu akan lenyap bagai asap. "Pergilah. Aku akan segera menyusul," sahut Wira tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Suaranya datar, namun mengandung perintah yang tidak ingin dibantah. Ganta menelan ludah, menatap pintu baja di ujung lorong, lalu kembali melirik Wira yang masih menempelkan telapak tangannya di kaca. "T-tapi Bang... kalau ada orang Pak Haryo yang lewat lorong atas—" "Aku bilang pergi, Ganta. Aku tahu apa yang kulakukan," potong Wira, kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Baik, Bang. Saya tunggu di ruang de
آخر تحديث : 2026-07-17 اقرأ المزيد