Jeevi terkejut ketika suaminya pulang membawa luka di dahi bagian atasnya, mendekati batas rambut. Dia yang sedang menyusun buku-buku mata kuliah segera beranjak menghampiri suaminya yang baru saja masuk bersama Rafli. “Mas, kamu kenapa?” tanya Jeevi dengan wajah cemas, dia mengikuti Wima yang beranjak duduk di sofa. “Aku nggak apa-apa.”“Nggak apa-apa gimana? Kalau nggak apa-apa mana mungkin kepala kamu dipasang perban.” “Kepala Pak Wima bocor, Mbak. Kena lempar gelas Bu Ratih,” info Rafli yang sontak membuat mata Jeevi melebar tak terima. “Kok bisa?!” Jeevi menatap kembali suaminya. “Kamu ngapain sih ketemu Mbak Ratih lagi? Terus lukanya ini gimana?” “Aman kok, Mbak. Cuma dijahit dua karena ada luka robek yang agak dalam.” Jeevi meluruhkan bahu dengan tampang sedih. Wima terlihat baik-baik saja bahkan pria itu malah tersenyum, tapi hati Jeevi terasa sakit. Dia berbalik, lantas beranjak ke dapur sambil ngomel. “Kamu tuh ya. Aku selalu bilang hati-hati, hati-hati, tapi nggak p
Last Updated : 2026-10-10 Read more