“Kalau ini besar pasti lucu.”“Ngeledek.”“Serius, Sayang. Kamu cantik, imut, ditambah perutnya besar, pasti makin—”“Kayak badut,” potong Jeevi cepat. Membuat Wima kontan tertawa. “Nggak. Kamu tetap cantik. Apalagi kalau lagi hamil anakku.” Pandangan Wima kembali turun ke perut Jeevi yang terbuka. Tangannya mengelus pelan. “Isi lagi ya. Biar Abi ada temennya.”“Hah?! Apa tadi?” “Apa?”“Kamu tadi sebut diri kamu apa?”“Uhm, abi?” Seketika tawa Jeevi pecah. Dia ngakak sambil guling-guling di atas kasur. Membuat Wima mengernyit heran. “Emang salah?”Jeevi berhenti tertawa sejenak. “Kalau kamu abi, aku ummi dong!” “Boleh.”Jeevi kembali ngakak brutal, kali ini sambil nungging-nungging. Membuat Wima ngeri sendiri. “Sayang, jangan aneh-aneh deh.”“Kamu yang aneh, Mas!” Jeevi mengusap sudut matanya yang basah. Perutnya sakit karena tertawa. “Muka kita.” Dia menuding dirinya dan suaminya. “Nggak cocok banget dipanggil abi-ummi.”“Siapa bilang? Cocok aja kok.”“Umumnya orang Indo pada um
Last Updated : 2026-10-17 Read more