“Mas!” Jeevi menggaet tangan Wima. “Jangan sampai dia yang nyamperin kita. Perutnya udah gede. Ayo, kita yang ke sana aja.”“Tapi—”Belum sempat protes, Jeevi sudah menarik tangan Wima, menyeretnya mendekati Kalla. Kontras dengan Wima yang bengong, wanita itu malah tersenyum lebar. “Halo,” sapa Jeevi, matanya berbinar terang, nyaris sama dengan binar di mata Kalla. “Halo,” sambut Kalla senang. “Kamu … istri Kak Wima yang kuliah di sini ya?” tanya wanita itu antusias. “Iya.” Jeevi mengulurkan tangan. “Kenalin, saya Jeevi. Saya Mahasiswa Ilmu Hukum semester 4.” Menyambut tangan Jeevi, Kalla tersenyum senang. “Aku Kalla. Aku mantan karyawan Kak Wima dulu. Tapi sekarang ngajar di sini.” “Wah, jadi Bu Kalla dosen ya?”“Eh, jangan panggil bu dong. Ya meskipun bentar lagi aku jadi ibu.” Kalla terkekeh, lantas menatap Wima. “Istri kamu cantik, Kak.”Wima mengerjap, tapi kemudian tersenyum. “Apa kabar, Kalla?” tanya Wima, pandangannya tertuju pada perut besar wanita itu. “Aku baik banget,
Última atualização : 2026-10-11 Ler mais