"Ihh... Apa-apaan sih lo..." Aku mendorong pelan dada tegap Axel seraya tersipu malu. Wajahku rasanya sudah memerah berona bagai buah ceri yang matang.Axel terkekeh kecil. Ia kemudian menangkup sebelah pipiku hangat, menatapku dengan binar mata yang berkilau begitu cerah."Gue serius, Kay... gue benar-benar pengin kita segera punya anak," bisiknya lembut seraya mengusap belahan bibirku menggunakan ibu jarinya. "Seorang anak perempuan yang lucu.""Kenapa harus perempuan? Bukankah... biasanya pria lebih mendambakan anak laki-laki?"Axel menggeleng pelan. "Gue pengin punya anak perempuan yang pemberani seperti lo. Nggak takut gelap, nggak gentar pada siapa pun, dan selalu tegak berdiri menghadapi cemoohan orang."Gue sebenarnya nggak sekuat itu, Axel. Terkadang... gue merasa ingin menyerah dan melangkah jauh ninggalin lo, bisikku nelangsa di dalam hati.Namun, kepahitan itu hanya membeku di dalam batin. Pada akhirnya, aku tetap memaksa menyunggingkan senyum seraya melingkarkan kedua len
Last Updated : 2026-09-25 Read more