ログインAku hanya menoleh tipis dari balik pundakku. "Gue tunggu..." tantangku seraya menyunggingkan senyum miring sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja untuk mengabaikannya."Huuft! Tiada hari tanpa mengancam!" gumamku seraya membawa cangkir teh hangat itu dengan hati-hati.Entah terbuat dari apa hati Lintang dan mamanya itu. Setiap saat selalu saja ada waktu untuk merundungku. Aku sungguh heran, apa mereka tidak lelah jika hidupnya selalu dipenuhi rasa dengki padaku?Aku mendorong pelan pintu ruangan kerja Axel, lalu meletakkan cangkir teh porselen itu di atas mejanya tanpa bersuara."Kenapa wajah lo ditekuk begitu?" tanyanya seraya mengamati raut mukaku.Aku spontan meraba wajahku sendiri. "Emang kelihatan banget?""Kelihatan jelas!" Axel menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, lalu memutar posisinya menghadapku. "Diganggu Lintang lagi?"Aku mengangguk pelan seraya mengerucutkan bibir kesal."Biasanya lo selalu cuek dan nggak memedulikannya. Kenapa sekarang malah terpancing
Aku hanya cengengesan, lalu membalas mengecup bibirnya terlebih dahulu. Namun, Axel justru membeku kaku dengan mata membulat sempurna menatapku.Ia segera menegakkan kembali posisi duduknya, lalu dengan cepat menggeser tuas persneling mobil."Lo kenapa mendadak buru-buru begitu?" tanyaku dengan kening berkerut dalam."Pengin cepat-cepat sampai di apartemen," sahutnya seraya mengendalikan kemudi dan melaju keluar dari pelataran kantor KUA."Memangnya ada apa?"Ia memiringkan tubuhnya ke arahku sejenak seraya tetap memfokuskan pandangan ke jalan raya. "Pengin cepat-cepat 'makan' lo."Aku mendadak terkekeh mendengar alasannya. Sialan. Aku pikir ada urusan mendesak apa, rupanya pria ini hanya tak sanggup lagi menahan hasratnya.Satu bulan masa pernikahan kami berlalu begitu cepat. Hari-hari yang kulalui bersama Axel selalu diliputi kebahagiaan, meski sesekali tetap diusik oleh keberadaan Lintang di kantor.Pyar!Seperti yang terjadi hari ini. Aku yang sedang membawa secangkir teh hangat u
"Ihh... Apa-apaan sih lo..." Aku mendorong pelan dada tegap Axel seraya tersipu malu. Wajahku rasanya sudah memerah berona bagai buah ceri yang matang.Axel terkekeh kecil. Ia kemudian menangkup sebelah pipiku hangat, menatapku dengan binar mata yang berkilau begitu cerah."Gue serius, Kay... gue benar-benar pengin kita segera punya anak," bisiknya lembut seraya mengusap belahan bibirku menggunakan ibu jarinya. "Seorang anak perempuan yang lucu.""Kenapa harus perempuan? Bukankah... biasanya pria lebih mendambakan anak laki-laki?"Axel menggeleng pelan. "Gue pengin punya anak perempuan yang pemberani seperti lo. Nggak takut gelap, nggak gentar pada siapa pun, dan selalu tegak berdiri menghadapi cemoohan orang."Gue sebenarnya nggak sekuat itu, Axel. Terkadang... gue merasa ingin menyerah dan melangkah jauh ninggalin lo, bisikku nelangsa di dalam hati.Namun, kepahitan itu hanya membeku di dalam batin. Pada akhirnya, aku tetap memaksa menyunggingkan senyum seraya melingkarkan kedua len
Aku dan Axel saling bertukar pandang dengan binar mata yang berkilau bahagia. Axel mengambil cincin bermodel sederhana, lalu menyematkannya di jari manisku. Logam mulia berwarna putih itu terikat begitu manis di jariku, dihiasi deretan berlian kecil yang memantulkan pendar berkilau di sepanjang lekukannya."Lo suka modelnya?" tanya Axel seraya menggenggam jemariku erat.Aku mengangguk cepat dengan senyum lebar yang tak sanggup kusembunyikan. Entah kapan Axel sempat membelinya, tapi aku sangat menyukai desain cincin yang simpel dan elegan ini—sangat mencerminkan gayaku yang santai.Prok! Prok! Prok!Seisi ruangan akad bertepuk tangan meriah diiringi gelak tawa dan ucapan penuh rasa syukur."Sekarang, giliran pengantin wanita yang menyematkan cincin di jari pengantin pria," pinta sang penghulu ramah.Aku meraih cincin pria di dalam kotak beludru merah, lalu perlahan menyematkannya di jari manis Axel—disambut riuh tepuk tangan dari keluarga yang menyaksikan."Akhirnya... kalian resmi me
"Xel... bukankah lo bilang kita mau menghadiri rapat sama klien?" tanyaku penuh keheranan pada Axel yang kini sudah berdiri tegap di sampingku.Axel hanya mengulas senyum tipis seraya menatap Mama dan Pakde Arga. "Iya, rapatnya di sini. Bersama orang tua kita dan petugas KUA," sahutnya santai, disusul kekehan renyah dari bibirnya.Keningku berkerut makin dalam, sementara mulutku sempat menganga lebar karena kehilangan kata-kata. "Lo serius?! Bukankah... kemarin lo bilang kita baru akan meresmikan pernikahan secara negara sekitar seminggu lagi?"Mama dan Pakde Arga ikut terkekeh melihat raut kebingunganku yang teramat nyata."Awalnya memang dijadwalkan seminggu lagi, Kay. Tapi entah kenapa, tadi malam Axel tiba-tiba menghubungi kami dan memajukan jalannya acara jadi hari ini," sahut Pakde Arga menjelaskan.Aku spontan menoleh menatap Axel dengan sejuta tanda tanya di benakku. Sekali lagi... kenapa dia tiba-tiba mengubah jadwal sakral ini secara mendadak? Mungkinkah... percakapan dan di
Aku akhirnya mengurungkan niat untuk berkuda, lalu melangkah kembali ke kamar seraya bergumam kesal sendiri."Dasar cewek aneh! Gayanya saja sok menolak Kak Rayan, jangan-jangan sebenarnya dia juga mulai suka!""Ada apa?""Astaga!" Aku terperanjat kaget dengan jantung yang rasanya hampir copot. Axel tiba-tiba muncul keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk."Lo mengagetkan gue saja! Bukannya tadi lo masih tidur lelap?" tanyaku seraya mengelus dada yang masih berdebar kencang.Axel menyeringai geli. "Gue nggak bisa tidur lagi. Lo nggak jadi berkuda?"Aku melangkah lesu, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. "Hani sudah asyik berkuda duluan sama Kak Rayan.""Oh, ya?"Aku hanya mengangguk pelan seraya mencebikkan bibir.Axel terkekeh kecil, walau ada pendar tipis yang misterius di matanya. "Cepat juga kemajuan mereka. Padahal tadi malam Hani masih berpura-pura jual mahal."Axel menghentikan usapan handuknya, lalu mengecek jam tangan di atas nakas. "







