Aku segera menghampiri Axel dan berlutut di depan kursi rodanya. "Iya, Xel... Tadi kami dari kampus, dan Kak Rayan bilang mau menjenguk untuk melihat kondisi lo.""Bagaimana keadaan lo sekarang, Xel?" tanya Kak Rayan hangat dan ramah dari belakangku.Namun, di luar dugaan, Axel justru menyambut sapaan itu dengan tatapan mata yang amat dingin dan menusuk. "Lo datang dan bertanya seperti itu cuma untuk memastikan kalau gue benar-benar sudah cacat, kan?!"Dahiku seketika mengernyit dalam, spontan berbalik menatap Kak Rayan yang terpaku kaget."Xel... kok omongan lo melenceng begitu, sih?" bisikku heran.Axel mengabaikan bisikanku. Dengan gerakan kasar, jemarinya menarik paksa jaket kulit Kak Rayan dari pundakku, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai menuju arah Kak Rayan."Xel!" teriakku kaget, spontan menoleh ke arah Kak Rayan dengan panik.Sorot mata Axel kini tertuju tajam pada pundakku yang terekspos akibat robekan kemeja. "Ada apa dengan baju lo?""Tadi ada insiden kecil
Last Updated : 2026-10-03 Read more